Thursday, April 9, 2020

Cerpen - Cermin


Cermin
Ditulis oleh : Paulus Eko Harsanto

Mentari mulai lelah bersinar. Ia rela mengalah dan tunduk pada keanggunan lembayung senja. Sudah sehari penuh Sang Mentari berjalan dan memancarkan sinarnya, kini sudah tiba saatnya ia beristirahat, naik ke peraduannya. Keanggunan lembayung senja pun segera mengambil alih kekuasaan yang sudah ditinggalkan sang mentari. Kelembutan dan kedamaian disinarkan dengan manis oleh sang lembayung. Tak heran banyak burung-burung yang keluar untuk menikmati sinarnya.
Kenikmatan ini ditambah dengan kemesraan sepasang suami istri yang sedang berdiri di pinggir pantai.
”Mas, sudah pulang?” tanya Tini pada suaminya.
”Sudah. Sebenernya ada apa?”
Panji tidak menjawab pertanyaan istrinya. Ia merasa ada yang janggal dengan istrinya. Tak biasanya istrinya menunggu kepulangannya di tepi pantai.
”Lho... ditanya kok malah balik nanya?” balas Tini.
”Ya nggak biasanya kamu ada di sini...”
O, ya ampun... iya aku hanya pengen ketemu Mas di sini.” jawab Tini.
”Bener, nggak ada maksud lain?”.
”Hehehe.... ada sih, aku hanya pengen ngobrol aja, boleh kan?” kata Tini manja.
”Boleh, memang kamu mau ngomong apa?” tanya Panji.
Sambil menunggu jawaban, otak Panji mulai meraba-raba sebenarnya pembicaraan ini mengarah kemana. Sempat terbersit oleh Panji tujuan pembicaraan ini mungkin mengenai gambar wajah ayahnya yang ia temukan kemarin di pantai.
Mas, kalau boleh tahu, Mas punya simpanan ya?” suara Tini menjadi serius.
”Maksudmu? Kalau duit simpanan ada, tapi ada di rumah.”
Bukan itu, Mas punya istri simpanan?”
Lho, apa maksudmu? Aku kan hanya punya kamu seorang”, jawab Panji.
Tini hanya diam. Pikiran dan hatinya tidak sejalan. Pikirannya berkata bahwa suaminya berbohong. Lagi pula kan sudah terbukti dengan gambar wajah wanita lain di bawah bantalnya. Tetapi hatinya berkata lain. Hatinya merasakan suaminya tidak berbohong. Tini bingung harus mengikuti yang mana. Suaminya juga tak menunjukan gelagat kebohongan. Sudah 8 tahun Tini menikah dengan Panji dan Tini tahu seluk beluk sikap Panji, bahkan sikap Panji ketika berbohong pun diketahui oleh Tini.
Lho... malah ngelamun?” tanya Panji.
Aku bingung Mas, tadi pagi saat aku beres-beres, aku menemukan gambar wajah perempuan lain di bawah bantalmu. Sudah Mas sekarang jujur sama aku”, jawab Tini.
Otak Panji mulai tercerahkan. Ternyata benar, pembicaraan ini mengenai gambar wajah ayahnya yang ia temukan kemarin di pantai. Tetapi otaknya berpikir kembali, ia menemukan gambar wajah ayahnya, bukan gambar wajah perempuan. Ada yang tidak beres di sini.
”Ooo.... yang ada di bawah bantalku itu gambar wajah ayahku, bukan wajah    perempuan lain!”
Mas, aku lihat dengan mataku sendiri itu adalah wajah seorang perempuan!” Air mata Tini pun tidak dapat dibendung lagi.
Kamu percaya sama aku?” tanya Panji.
Aku sangat percaya sama Mas, tapi sejak kutemukan wajah perempuan itu, aku agak ragu dengan perkataanmu Mas”, jawab Tini.
Baik, sekarang mana gambar wajah itu?” Panji mengendalikan emosinya.
Tini segera mengeluarkan sebuah bungkusan yang dibungkus oleh kain dari belakang tubuhnya. Ya, itu adalah bungkusan kain yang disimpan oleh Panji di bawah bantalnya.
Coba buka bungkusan itu dan lihat gambarnya!” perintah Panji.
Tini menurut pada perintah suaminya. Setelah bungkusan itu terbuka, terkejutlah Panji dan Tini saat melihat foto yang muncul. Panji melihat gambar wajah ayahnya berdua dengan istrinya. Berbeda dengan yang dilihat Tini. Ia melihat gambar wajah suaminya bersama perempuan lain.
”Mas, nih buktinya, kamu sama perempuan lain kan?”
Eh...eh...coba kamu lihat lagi, itu kan ayahku sama kamu sendiri.” jawab Panji.
”Pasti ada yang salah di sini. Aku dan kamu melihat gambar yang berbeda.”            lanjut Panji.
”Hah.. jujur sajalah, Mas! Aku nggak marah kok, aku hanya pingin kamu jujur”
Tini, ini ada yang salah. Kamu percaya sama aku kan?”
Salah bagaimana?” tanya Tini.
Iya, masak kita melihat gambar yang sama, tapi yang kita lihat kok berbeda?”
Sebenarnya Tini juga merasakan hal yang sama. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi perasaan hatinya sudah mengendalikan seluruh tubuhnya. Tini mulai bimbang dan bertanya dalam hatinya jangan-jangan benda ini adalah benda yang sakti.
Mas, aku percaya sama kamu, tapi kamu jujur kan?”
Iya, aku jujur. Aku hanya mencintaimu”, kata Panji.
Keanehan yang Mas maksud bukan cara kamu menghindar kan?” Tini masih      meragukan jawaban suaminya.
Pak Parto yang sedari tadi mengamat-amati Panji dan Tini akhirnya memberanikan diri mendekati mereka. Ia merasa heran karena Panji dan Tini adalah pasangan yang terkenal dengan kemesraan mereka di desa ini, tetapi mengapa mereka sore ini bertengkar. Sebagai kepala desa, ia merasa ini bagian dari tanggung jawabnya untuk membantu mereka.
Ada apa ini?” sapa Pak Parto.
Ini Pak, saya menemukan benda ini di bawah bantal suami saya.” jawab Tini.
Oooo.... benda ini penyebab kalian ribut dari tadi.”
Maksud Bapak?” Panji heran.
Iya, tadi saya berjalan menuju rumah Pak Tito, saudagar desa kita yang baru             pulang, lalu melihat kalian bertengkar, saya heran saja, pasangan serasi kalian     bisa bertengkar juga ya.... hehehe....” jelas Pak Parto.
Iya, di dalamnya ada gambar perempuan lain”, emosi Tini melonjak.
Boleh saya lihat?”
Silahkan Pak”, jawab Panji.
Parto mulai membuka bungkusan yang diserahkan Tini padanya. Setelah melihat gambar yang ada, ia merasa heran. Tini berkata bahwa ada wajah perempuan lain. Ia rasa Tini salah melihat. Pak Parto hanya melihat wajahnya sendiri tergambar pada benda itu.
Loh... ini kan wajah saya. Mana perempuannya?” kata Pak Parto.
Tini dan Panji heran. Tini jelas-jelas melihat wajah perempuan lain. Begitu juga dengan suaminya. Panji jelas-jelas melihat gambar wajah ayahnya. Panji merasa ada yang benar-benar salah di sini. Emosi Tini menurun. Sebenarnya tadi ia hendak memarahi suaminya karena berusaha mengelak dari kesalahannya, tetap tertahan karena jawaban dari Pak Parto.
Ya sudah, sekarang kita bertiga menemui Pak Tito, benda apa sebenarnya ini”
Baik Pak!” jawab Panji dan Tini serempak.
Mereka bertiga pergi menuju rumah Pak Tito. Pak Tito adalah saudagar yang sukses dan paling kaya. Setiap ada warga yang membutuhkan bantuan, Pak Tito bersedia membantu sejauh yang dapat ia bantu. Semua warga desa amat menghormati Pak Tito.
Wah, Pak Parto, Panji, Tini, tumben kemari, ada yang bisa saya bantu?” sambut Pak Tito saat melihat tamunya.
Begini Pak, Panji dan Tini menemukan benda ini. Tini melihat wajah seorang            perempuan, tetapi saat saya melihatnya, saya melihat wajah saya. Ini benda apa          ya Pak?” Pak Parto langsung menjelaskan permasalahan mereka.
Saya malah melihat wajah ayah saya”, sambung Panji.
Pak Tito menerima bungkusan dari Pak Parto, ia membukanya kemudian mengamat-amati sebentar. Ya, ini adalah pecahan cerminnya yang pecah 2 hari yang lalu.
Benda ini pasti di temukan di pantai, di dekat perahu-perahu”
Bagaimana Pak Tito bisa tahu?” tanya Panji.
Iya, waktu itu saya baru pulang, saat berjalan menuju rumah, saya tersandung,         kemudian cermin saya pecah. Saat mencari pecahannya, saya kesulitan. Ya          sudah, saya hanya merelakan pecahan itu hilang”, jawab Pak Tito.
Setelah menjawab demikian, Pak Tito masuk ke kamarnya mencari cermin kesayangannya yang ia beli di kota beberapa hari yang lalu. Setelah menemukannya, Pak Tito kembali menemui tamu-tamunya kemudian mencocokan pecahan cermin itu pada cerminnya. Terbukti, pecahan itu pas dengan bagian cermin miliknya yang hilang.
Ooo... barang ini milik Pak Tito, lalu Pak, cermin itu apa?” tanya Tini.
Ooo, cermin itu adalah benda yang dapat merefleksikan wajah kita saat kita    melihatnya. Nih buktinya, coba kamu pegang dan lihat. Nah yang kamu lihat itu        adalah bayangan wajahmu sendiri.” kata Pak Tito seraya menyerahkan cermin pada Tini.
Tini melihat perempuan yang sama saat melihat gambar itu pertama kali. Sekarang ia tahu bahwa itu adalah dirinya sendiri. Ia melihat dirinya begitu cantik. Tini pun tersipu malu. Ia menatap suaminya.
Panji hanya tersenyum melihat istrinya tersipu malu. Ia juga sadar bahwa yang dilihatnya bukan wajah ayahnya yang telah meninggal, tetapi wajahnya sendiri.
Mas, maafkan aku ya....” kata Tini.
Iya, istriku sayang”, jawab Panji sambil memeluk istri tercintanya.
Pak Tito dan Pak Parto hanya tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri yang ada di depan mereka.


Ketika melamun di depan cermin

Cerpen - Curhat


Curhat
Oleh : Paulus Eko Harsanto

Banyak orang bilang, liburan itu momen yang ngangeni, Wisky di tengah rutinitas hidup yang memegalkan daging dan batin. Tapi bagiku, semua itu omong kosong. Liburan tak ada bedanya dengan arena penjagalan hati, tempat di mana intuisiku dikoyak dan dibacok habis, bengis.

Semuanya gara-gara kamu. Kamu, Hellena Sofrania Dinar, yang tiba-tiba nongol di tengah jalan hidup yang sedang mantap-mantapnya kupijaki. Kamu, yang membuat tanganku alergi untuk tidak menggenggam dan memijati tombol-tombol batangan seluler yang bahkan membuatku heran sendiri. Kamu, yang mengenakan sweater tipis berwarna krem, berpotongan rambut sebahu dengan jeans biru, duduk bersama lelaki yang tak kutahu di gereja pagi itu.
Kau agaknya kaget dengan kehadiranku. Senyum segera membingkai wajahmu, sementara aku hanya bisa menatap lekat punggungmu dari belakang bangku.
“Hai.”
“Hai.”
Kau sapa aku seusai misa di parkiran, sementara aku hanya bisa membalasnya dengan seulas senyum kaku. Kau pulang bersama dia yang tak kutahu, meninggalkan seulas senyum simpul yang lengket di benakku. Aku termenung dalam lamunan, sampai Romo menggandengku dengan penuh semangat untuk sekedar mengisi perut dan basa-basi di pastoran. Maklum, jarang-jarang seminaris berkunjung ke pastoran, kecuali saat libur.
“Penjagalan” serupa kualami kemudian di hari-hari liburanku; saat misa harian, misa malam natal, pun saat misa natal anak. Aku dan kamu, bercakap-cakap hanya dengan mata kita yang terkadang saling terpaut di gereja. Malam natal itu aku hanya bisa duduk menatapmu yang duduk di bangku koor, dengan harapan yang menggantung akan sapaan dan ucapan selamat natal darimu di penghujung misa malam itu. Semua itu sayangnya hanya menjadi sebongkah harapan kosong. Kau berkumpul bersama kawan-kawanmu, tenggelam dalam kehangatan natal yang membuatku iri dan cemburu. Akhirnya kulekatkan pantatku di pastoran, duduk bersama romo-romo maupun frater sembari berbasa-basi saja, menghabiskan malam natal yang sepi akan harapan akan dirimu yang sempat hijrah di benakku.
Esoknya pun begitu. Kujumpai lagi dirimu di misa natal anak bersama lelaki itu, mendampingi bocah-bocah PIA di Gereja. Akhirnya aku dapat menemuimu di penghujung misa,
bersama lelaki itu.
Kulontarkan seulas senyum dan ucapan selamat natal padamu, dan aku pun pulang dengan rasa cemburu yang merangkul.
Kenapa harus ada hari libur? Kenapa aku harus kembali ke Jogja, menghabiskan waktu dalam kekalutanku akan dirimu dan juga jalan hidupku? Sungguh, selibat yang kucoba gandeng saat ini benar-benar tidak menaruh kompromi akan kehadiranmu. Aku jadi limbung; kumohon pada-Nya sebuah peneguhan, namun Dia justru menghadapkanku padamu. “Apa-apaan ini,” pikirku. Aku pun seolah kembali dihadapkan pada pilihan itu: awam, atau imam?
Aku merasa seolah telah berselingkuh dari panggilanku, denganmu.
***
Tahukah kamu?
Di sini, aku masih menaruh rasa padamu yang jauh di Seminari. Maka dari itu kehadiranmu saat liburan sungguh menghiburku, meski sesungguhnya aku telah berusaha untuk mengikhlaskanmu dengan pilihan dan jalan hidupmu itu.
Pertemuan kita di setiap ekaristi selalu menggugah semangatku. Pagi itu aku ingin ngobrol dan sekedar berbasa-basi denganmu, namun kamu sedang berbincang-bincang dengan romo di pastoran. Malam itu, seusai misa natal, aku ingin menemuimu untuk sekedar menyapa dan menyampaikan ucapan selamat natal padamu tepat sesudah aku berbincang bersama teman-temanku, namun lagi-lagi kamu berkumpul dengan romo-romo dan juga frater di pastoran.
Akhirnya aku menjumpaimu pagi itu seusai misa natal anak. Kau sapa aku, kau ucapkan selamat natal padaku dan kau pun segera pergi dari hadapanku dan Joko, dengan semburat rasa cemburu yang terbingkai di wajahmu.
I wish you’re not jealous to me. Bukankah dulu kamu sendiri yang berkata, ”Aku sudah bisa mengatasi perasaanku padamu”? Bahwa semua itu memanglah pil pahit yang harus kau telan, sebagai konsekuensi dari jalan hidupmu itu? Lantas mengapa masih kau tunjukkan padaku kebiruanmu itu, ke’jealous’anmu, padaku?
Luka itu menganga kembali apabila aku mengenangmu dalam lamunanku, namun aku selalu berusaha untuk menutupnya dengan keikhlasanku atas pilihan hidupmu. Aku tidak mau, kamu melihat luka itu menganga dari wajah dan sikapku padamu. Aku tidak mau kamu tahu, aku sakit.
Oleh karena itulah aku selalu tersenyum padamu. Kucari orang lain yang “sepadan” denganmu, meski kutahu, tak ada orang lain yang sanggup memadani seorang Andreas Rahardjo. Kubendung perasaanku yang selalu menggebu-gebu untuk menghubungimu, agar aku tidak melulu mengaduk-aduk perasaanmu dengan sikapku. Semua itu demi dirimu dan “mempelai”mu itu.
Namun tampaknya kamu belum bisa melepasku. Kau serbu malamku dengan sms’mu, kau ungkapkan semua perasaan dan juga kecemburuanmu padaku, sampai akhirnya aku ajak aku untuk mengawali warsa tahun 2010 ini dengan mentraktirku di Pizza Hut sore itu. Kau bahkan memberiku kado ulang tahun yang terburu-buru, mengingat ulang tahunku yang masihlah terlampau jauh, sebelas Maret.
“Aku tahu ini konyol. Tapi aku khawatir, kalau aku tidak bisa mengirimimu kado ini dari Seminari sewaktu kamu ulang tahun. Takut kirimannya nyasar’lah, gak nyampe’lah. Yah, anggap saja ini kado ultah kesusu, kado natal, atau bahkan hadiah tahun baru.”
“Andre…”
“Yah, aku memang sakit. Tapi mau bagaimana lagi, toh aku sudah terlanjur sayang. Kadung tresna. Ya memang sakit, namanya juga jalan hidup.”
Kau aduk perasaanku hingga sejauh itu. Aku hanya bisa diam, menatapmu melahap pizza tuna dengan tatapan kosongmu yang mengudara entah ke mana. Kau tumpahkan semua perasaanmu padaku sore itu, membuatku semakin tersiksa dengan, yah, apalah itu. Wanita mana yang tidak merasa tesiksa, mengetahui bahwa dirinya disayangi oleh orang yang disayanginya, namun juga tak bisa dirangkulnya?
“Biar saja aku sakit. Yang penting kamu tidak sakit seperti aku, toh sudah ada Joko yang menemanimu. Kamu tidak sakit’kan, Din?”
“Tidak. Aku tidak apa-apa.”
Kulontarkan kata-kata itu dalam topeng senyumku padamu. Aku tidak mau, kamu melihat luka itu menganga dari wajah dan sikapku padamu. Aku tidak mau kamu tahu, aku sakit.
“Yah, syukurlah kalau begitu…”
Sore itu kita tertawa bersama, menghabiskan waktu sembari menertawakan lakon sakit hati yang tengah kita hayati selama ini.
Andre, aku selalu mendoakanmu, mendukung pilihan dan jalan hidupmu, apapun itu. Hanya saja tolong, jangan tinggalkan panggilanmu hanya karena diriku. Jangan.
Aku hanya tidak mau kamu tahu, aku sakit.
***
Kamu bohong.
Sore itu, dari matamu kulihat perih yang berlawanan jauh dari buah bibirmu yang berujar,
“Tidak. Aku tidak apa-apa.”
Maaf, maafkan aku. Kamu pasti merasa sakit dengan semua sikapku selama ini. Yah, begitulah aku, Andre yang dengan mudahnya buta akan perasaan dan intuisi. Maafkan aku, yang telah menjadikanmu tumbal kebutaanku.
Aku pun kembali dibayang-bayangi oleh pertanyaan itu: awam, atau imam? Ah, limbung rasanya. Bisakah aku menjadi seorang imam, apalagi berselibat, dengan intuisi sesensitif ini? Bisakah aku melakoni hidup awam, apalagi dengan keutuhan keluargaku yang sedemikian rupa, mengingat keberadaan Mas Awan yang adalah kakakku secara lahiriah namun juga adik secara batiniah dan kedewasaan diri, dalam hidupku? Antonius Rahardjo Irawan Adi Suryo, seorang bocah bermental sepuluh tahun yang terperangkap dalam tubuh seorang lelaki berusia kepala tiga, yang hidupnya selalu diwarnai dengan judi, lonthe, sekularisme dan hedonisme? Sungguh, kau akan tertipu dari perawakannya yang besar dan preman dari luarnya, karena sebenarnya dia hanyalah seorang pengecut yang akan lari dengan mudahnya dari setiap tanggung jawab yang ada padanya, pembual ulung sekaligus pemboros arta yang profesional. Mungkin aku masih bisa menerimanya meskipun dengan keluhan yang sudah sewajarnya kulontarkan secara manusiawi, namun sanggupkah istriku menerima dirinya nantinya, apalagi kamu, Dinar? Tak terbayang olehku, hidup dalam bayang-bayang kakakku itu bersama keluargaku sebagai seorang awam. Membayangkannya mampir ke rumah saja sudah membuatku mual, meski sesungguhnya aku menyayanginya.
Namun aku lagi-lagi dihadapkan pada perasaanku padamu. Di sinilah aku memutuskan untuk tidak mengambil keputusan apapun. Aku rindu saat-saat itu, saat di mana aku terjun dalam keheningan diri yang menenangkanku. Maka pergilah aku siang itu, ke tempat di mana aku dapat memperoleh apa yang kuinginkan.
***
Mendung tipis menggantung di langit siang itu. Andreas Rahardjo pergi, memboyong shogun 125 cc’nya ke sebuah rumah singgah MSC di dekat rumahnya, tempat yang dulunya milik keluarganya dan dijual oleh ayahnya pada para misionaris MSC demi melunasi hutang-hutang yang membumbung.
Dia ingat, dulu dia pernah mampir ke rumah itu untuk sekedar bernostalgia. Rumah itu sudah memiliki sebuah kapel di ruang depannya, sebuah tempat yang kemudian menjadi tempat favorit Andre untuk sekedar menyelami keheningan dan menyapa sang Ilahi. Di sana dia menemukan kebeningan yang blaka dalam dirinya sendiri, dan dia pun ketagihan menenggak kebeningan itu. Dia ingat, untuk pertama kalinya dia menenggak kebeningan itu satu tahun yang lalu, di kala dia dirundung kepenatan di sela liburannya. Di senang akan sensasi tenggakannya, dan kini, dia kecanduan.
“Selamat siang, Bruder.”
“Eh, Andre! Selamat natal dan tahun baru, ya! Ayo, masuk.”
Bruder paruh baya itu memboyong Andre ke ruang makan. Namanya Bruder Cahyo, kenalan lama keluarga Basoeki sejak terjualnya rumah besar itu pada para misionaris MSC. Di sana Andre makan bersama para penghuni rumah itu, dengan pastor, frater dan bruder. Makanan manado menyapanya, khas MSC.
Tak banyak dia santap makanan-makanan itu. Mengisi perut bukanlah tujuannya datang ke rumah itu. Dia ingin mengenyangkan batinnya.
“Der, nanti bisa ngomong sebentar?”
“He? Bisa, bisa. Di ruang depan, ya.”
“Aku ke kapel dulu ya, Der. Ngademake ati.
Penantiannya terpenuhi. Andre melangkahkan kakinya ke kapel berukuran enam kali  tujuh meter, sebuah ruang teduh berkarpet biru yang menenangkan. Sensasi itu menggelenyar dalam dirinya; rasa rindu, damai dan keteduhan yang membuat batinnya sakau akan keheningan. Siang itu, Andre merasa damai.
Bersilalah dia di hadapan altar. Dengan tenang dia memejamkan mata, tenggelam dalam keheningan, menemui-Nya.
***
Jalan setapak itu sepi. Angin mengalun santai, menyapa rerumputan yang menjawab sapaannya dengan lambaiannya yang mengalun lembut mengikuti alunan si Angin.
Andreas Rahardjo duduk di bawah sebatang pohon di tepi jalan itu. Di hadapannya terhampar luas rerumputan yang masih asyik mengalun bersama si Angin. Celana jeans membalut kakinya, berpasangan dengan kaos oblong hitam yang melekat di tubuhnya. Sementara itu seorang pria duduk di sampingnya, seorang pria dengan setelan kuno seorang gembala yang sangat ketinggalan zaman.
Tapi Andre merasa tenang berada di samping pria itu, sekuno apapun dia. Baginya, eksistensi pria itu jauh lebih penting daripada sekedar sebuah penampilan yang nonsense di matanya. Dia rindu akan pria itu, namun kerinduannya dinodai oleh segumpal uneg-uneg yang mengganjal di benaknya. Ada yang harus dia tanyakan, pada-Nya.
“Apa maksud-Mu?”
“He?”
“Kumohon peneguhan, tapi Dinar’lah yang kau hadapkan padaku. Apa maksud-Mu? Sakit, tahu.”
Pria itu diam. Sejenak mereka saling memandang, lalu tertunduk dalam benaknya masing-masing. Angin masih mengalun, sepi.
“Itu belum seberapa.”
“He?”
“Daripada sakitku, itu hanya secuil.”
Pria itu menunjukkan luka di kedua telapak tangan dan kaki-Nya. Andre mengernyit.
“Iya, aku tahu. Tapi apa mau-Mu?”
“Jalani saja dulu. Aku dulu juga begitu. Manusiawi.”
Andre merasa pertanyaannya belum dijawab. Dipandangnya jalan setapak yang sebelumnya dia tapaki. Dia ingat, dulu dia pernah menghadapi sebuah persimpangan sebelum menapaki jalan itu bersama pria itu. Pria itu selalu menemaninya, menjadi guide dalam perjalanannya. Dia pun memilih jalan yang kini dia tapaki, sesuai dengan arahan guide’nya  itu.
Setelah itu, rasa sakit pun menjadi kawan baru dalam perjalanannya. Jalanan itu berlimpah akan batu dan kerikil yang tidak pernah absen memijiti kedua telapak kakinya. Dia bahkan pernah menginjak sebatang paku yang dengan penuh nafsu menyodomi telapak kakinya yang tak beralas. Dia kesakitan, dan pria itu pun menolongnya.
Setiap kali dia merasa lelah dan kesakitan, dia beristirahat bersama pria itu di bawah pohon itu, selalu. Tidak di pohon lain, hanya di bawah pohon itu. Seolah pohon itu ikut berjalan bersama mereka ke mana pun mereka pergi. Seolah pohon itu tahu, mereka membutuhkan keteduhannya.
Andre masih menunggu.
“Aku sengaja melakukannya. Sengaja, supaya kamu merasakan rasa sakit itu menyesah batinmu.”
“Kenapa?”
“Aku mau, kamu memilih sendiri jalanmu. Aku memang mengarahkanmu di jalan itu, tapi Aku tidak suka dengan sikapmu yang hanya menurut saja seperti babu. Inggih, nanging ora kepanggih. Aku mau kamu benar-benar memilih sendiri jalanmu, dan tidak inggih-inggih’an saja seperti itu.”
Andre terhenyak. Keblaka’an pria itu membongkar semua tanda tanya dalam benaknya. Dia pun merasa lepas dan bebas dari rasa sakit yang merangkulnya. Semuanya mengalir begitu saja, menggelegak dalam dirinya. Kegundahannya sirna.
“Berat, ya.”
“Memang.”
Andre masih duduk bersama pria itu di bawah guyuran sinar mentari sembari dipayungi sang Pohon yang dengan setia meneduhi mereka, di manapun mereka berada.
Andre merasa bebas, merdeka.
***
Andre membuka matanya.
Sinar matanya menyorotkan sosok yang jauh berbeda daripada sebelumnya, sorot mata orang yang bebas dan merdeka.
Tuhan mendengarkan doa orang yang ingin lari dari kebencian, tapi Dia menulikan diri dari orang yang hendak lari dari cinta. “Benar juga,” pikirnya. Andre pun melangkah ke ruang depan, di sana Bruder Cahyo sudah menunggunya.
“Ada yang harus kucurhatkan,” batinnya dalam hati.

Dalam pergulatan keselibatanku

Wednesday, April 8, 2020

Puisi - Covid-19

TUHAN MENGAJAR MELALUI CORONA


Vatikan sepi.
Yerusalem sunyi.
Tembok Ratapan dipagari.
Paskah tak pasti.
Kabbah ditutup.
Shalat Jumat dirumahkan.
Umroh batal.
Shalat Tarawih Ramadhan mungkin juga bakal sepi.

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh!
Bahwa "hura-hura" atas nama Tuhan itu semu.
Bahwa simbol dan upacara itu banyak yang hanya menjadi topeng dan komoditi dagangan saja.

Ketika Corona datang,
Engkau dipaksa mencari Tuhan.
Bukan di Basilika Santo Petrus.
Bukan di Kabbah.
Bukan di dalam gereja.
Bukan di masjid.
Bukan di mimbar khotbah.
Bukan di majels taklim.
Bukan dalam misa Minggu.
Bukan dalam sholat Jumat.

Melainkan,
Pada kesendirianmu.
Pada keheningan hatimu.
Pada mulutmu yang tertutup.
Pada hakikat yang senyap.
Pada keheningan yang bermakna.

Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian.
Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual.
Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa.
Kecuali Tuhan itu sendiri!
Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar.
Tidak ada lagi sorak sorai memperdagangkan nama Tuhan.

Datangi, temui dan kenali DIA di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri.
Temukan Dia di saat yang teduh dimana engkau hanya sendiri bersamaNya.

Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu.
Qalbun mukmin baitullah.
Hati orang yang beriman adalah rumah Tuhan.

Biarlah hanya Tuhan yang ada.
Biarlah hanya nuranimu yang bicara.
Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini.
Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini.

Thursday, March 12, 2020

Artikel Politik- OMNIBUS LAW Itu Poison Pill Apa Solusi ya?

OMNIBUS LAW ITU POISON PILL APA SOLUSI YA?

Saya mendukung upaya indonesia menjadi berdaulat, terutama berdaulat ekonomi. Upaya omnibus law yang akan membuat regulasi tumpang tindih bisa di overrule dengan omnibus law kok membuat saya berfikir ulang.

Saya setuju peraturan pusat, daerah, kementrian, UU parlemen, peraturan pemerintah banyak konsletnya. Karena itu perlu sebuah aturan yang meng over rule atau bisa melangkahi semuanya.

Ini kepala saya kok jadi agak kleyengan ya?

Sebenernya ini ide siapa ya menggunakan omnibus law sehingga strategi yang di pakai adalah meng-over rule atau ada aturan di atas aturan. Sehingga statusnya “pemegang mandat omnibus law” yang jadi “kuat” dalam hal ini pemerintah. Ada bener nya.

Mungkin karena kebanyakan di dunia gelap sehingga otak analisa saya ke arah “threat” atau ancaman.

Makanya saya mendalami lagi mengapa ekonomi indonesia harus di i=omnibus law kan?

Otak saya menggiring pada sebuah pemahaman klasik yang tumbuh di pemerintah di 5 tahun pertama dan sekarang. Yaitu ekonomi tumbuh jika ada FOREIGN DIRECT INVESTMENT, FDI.

Karena itu untuk meningkatkan FDI, omnibus law akan di terapkan. Ahhhh, ini toh dasar pemikirannya. Mulai faham saya.

Bahkan berita hari ini bikin jantung saya hampir copot ketika pejabat negara mengatakan “asing boleh kelola ASET NEGARA”. Mucrat minuman teh saya keluar dari mulut saya. Kok bisa mengatakan hal itu ya?

Pasal 33 UUD itu kekayaan alam di kuasai negara, dan itu aset negara, dan itu boleh di kelola asing, JAGAD DEWA BRATA  kok bisa bisanya ngomong begitu. Segitu tidak percaya dirinya sama anak bangsa atau memang doktrin FDI sudah menjadi ideologi pejabat pemerintah ya. Harus dapat karpet merah, di puja puji tuh investasi asing.

Alasan klasik nomor dua adalah indonesia ngak punya uang untuk investasi karena itu harus ngutang. Walah dalah kok gitu ya ngurus negara.

Jauh jauh hari kita mengatakan dalam modern ekonomic concept, menggunakan M.M.T solusinya. S.W.F tanpa hutang solusinya. T.I.N.A solusinya. Itu 3 hal sudah di bombardir selalu saya seorang yang ngaku sontoloyo.

Samapai sekarang saya masih bingung dengan ide foreign direct investment, begini kebingungan saya mengapa mereka di specialkan.

Investor itu mikirnya simple, pengen modal kembali secepat cepatnya, untung segede gedenya, resiko sekecil kecilnya.

Mau negara nya rugi kek, mau SDM nya ngak di pake kek, ngak urusan. Kalau perlu aturan negara tersebut di ubah supaya menguntungkan mereka. Ehmm sebentar sik sik..

“kalau perlu aturan negera tersebut di ubah supaya menguntungkan mereka” ini kata kata kok saya kenal ya. Khan ada di journal china foregn policy yang judulnya “ china 3 warfare”.

The first of the “Three Warfares,” media or public opinion warfare, attempts to shape public opinion both domestically and internationally.

The second warfare attempts to influence foreign decision-makers and how they approach China policy.

The third seeks to shape the legal context for Chinese actions, including building the legal justification for Beijing’s actions and using domestic laws to signal Chinese intentions. Its call “ China legal warfare” strategy.”

Maaf saya tidak menterjemahan perkalimat. Sahabat menterjemahkan sendiri. Apa kira-kira isi dari kebijakan luar negeri china ini. Apakah Omnibus law itu pesanan mereka? Apakah kita sudah memakan jebakan mereka? Apakah kita belum masuk perangkap? Atau sebaliknya, kita sudah kejebak dan tinggal di gigit? . Mudah-mudahan saya salah lagi, kapan sih saya pernah bener? . #peace


Tuesday, March 3, 2020

Artikel Bisnis - Tugas Utama Pemimpin Bisnis

TUGAS UTAMA PEMIMPIN BISNIS

Chamath Palihapitiya. Mungkin tidak banyak yang mengenal namanya, apa lagi julukannya “Charlie foxtrot” dare devil entrepreneur pengusaha gila. Namanya saat ini sangat di hormati salah satunya dia menemukan sebuah rumus psikologi social yaitu tentang keinginan manusia untuk “exist”, terkoneksi, yang menyentuh hak dasar manusia bahwa semua manusia di ciptakan sama hak nya.

Rumus itu men-destruct merusak tatanan baku dunia social media. Sewaktu dirinya mempresentasikan ide nya, maka seorang pemimpin visioner seperti Mark Zukerberg pun bersedia merombak ulang facebook. Inilah yang terjadi di tahun 2008. Sehingga dalam 1 tahun, di tahun 2009 dari 50 juta pengguna facebook meningkat 750 juta membernya. Dia sendiri bergabung di FB tahun 2005 sebagai VP engineering yang dalam 3 tahun mengusulkan perubahan radikal, membongkat FB ala sosmed terdahulu menjadi baru, yaitu apa yang kita pakai FB sekarang ini.

Saat ini Chamath Palihapitiya sudah tidak bersama facebook lagi namun sudah menjadi seorang venture capitalist yang besar, yang dia bangun selagi dirinya masih bekerja di facebook.

Apa  yang dilakukan oleh  Chamat Palihapitiya sebenarnya? Dia melkukan perusakan destruksi terhadap simtem yang ada. Kita semua tahu bahwa “DESTRUCTION IS JOB NO.1” (before the competitor does it to us). “Merusak adalah pekerjaan utama!” Itu adalah kata-kata provokatif dari Tom Peters, pakar manajemen yang visioner, sekitar 10 tahun lalu.

“Tugas utama pemimpin bisnis adalah MERUSAK bisnis.” Sekilas pernyataan itu gendheng. Tapi coba kita lihat, pernyataan Tom satu dekade lalu itu kini terbukti benar adanya.

Menurut  Tom, kini seorang pemimpin bisnis memang tak cukup lagi hanya piawai membangun bisnis, ia juga harus piawai “MERUSAK” bisnis. Steve Jobs piawai “merusak” Apple dari Apple 1.0 yang hampir bangkrut menjadi Apple 2.0 yang gagah perkasa dengan iPod, iPhone, atau App Store-nya. Di Indonesia kita punya Ignatius Jonan yang piawai “merusak” KAI 1.0 yang lelet menjadi KAI 2.0 yang gesit. Helmy yahya merusak TVRI 1.0 yang kuno dan tidak menarik dalam 2 tahun menjadi naik 300% share ratingnya seperti saat ini menjadi TVRI 2.0

Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang dulu hebat seperti Kodak, GM, Nokia, atau Sony terus-menerus babak-belur mengalami kemunduran karena tak kunjung menemukan CEO yang mampu “merusak” fondasi model bisnis yang kini sudah tak relevan lagi. Karena itu seorang CDO (“Chief Destruction Officer”) kini adalah sosok yang paling diburu perusahaan-perusahaan di seantero jagat raya.

Yang sering kita dengar salama ini tentu adalah Chief Executive Officer, Chief Financial Officer, Chief Operating Officer, atau Chief Marketing Officer. Eh… kini ada binatang baru lagi namanya Chief Destruction Officer.
Ini bidang langka, bidang yang hanya dimiliki beberapa prang saja di dunia ini, di indonesia mungkin saat ini hanya 3 orang saja yang telah membuktikan ke piawaiannya pak Dahlan Iskan, Jonan dan Helmy Yahya

Kembali ke destruksi perusak. Dari arti harafiahnya saja sangat aneh dan “nggak nyambung”. Destruction artinya “perusakan” atau “penghancuran”. Jadi, kalau CEO bertugas mengelola seluruh strategi dan operasi perusahaan; CFO mengelola keuangan perusahaan; CMO membangun strategi pemasaran; lha si CDO ini tugasnya “menghancurkan” perusahaan.

Sekilas memang gendheng. Mari pelan-pelang kita coba mencernanya.

Lanskap bisnis sekarang ini bergerak dengan kecepatan tinggi secepat kecepatan cahaya: “chaotic”, “radical”, “turbulent”, volatile”, “uncertain”, “unpredictable”, dan masih banyak lagi istilah yang digunakan untuk menggambarkannya. Lanskap bisnis yang bergerak dengan super cepat ini  bukannya tanpa resiko dan bahaya. Bahayanya sangat-sangat besar.

Mau contoh? Layanan surat pos “mati” dimakan killer app baru seperti email, WA, dan ATM. Kodak yang lebih seratus tahun perkasa kemudian “dihabisi” oleh layanan photo sharing yang diberikan perusahaan start-up anak kemarin sore seperti Instagram. Toko kaset legendaris Aquarius Mahakam di Blok M tutup “dibunuh” platform baru seperti iPod-App Store, podcast,

Untuk bisa survive di tengah perubahan yang kaotik tersebut kuncinya terletak pada satu kata: “PENGHANCURAN”. Untuk sukses di era light-speed changes Kita tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu kita: “break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang.

Ke depan bagaimana dnegan bisnis anda para sahabat? Kalau bisnis modelnya tidak cocok lagi dengfan masa kini dan kedepan segera hancurkan kemudian membangunnya kembali menjadi organisasi yang sama sekali baru. Kita tak perlu ragu untuk “menghabisi” model bisnis lama yang sudah tak relevan lagi dengan yang lebih baru dan fresh. Kapanpun, kita harus siap dan tak segan-segan melakukan creative destruction… penghancuran secara kreatif.

Saya ulangi lagi, Hancurkan MODEL BISNIS LAMA yang tidak relevan lagi sekarang!!!

Kita semua tahu efek virus korona dan perang dagang berkepanjangan indonesia bisa masuk ekonomi sulit, itu  bisa kapan pun datang dan terus “mengintai”, tanpa sinyal, tanpa pemberitahuan, maka creative destruction haruslah menjadi “keseharian” operasi perusahaan kita. Organisasi kita, orang kita, sistem yang kita bangun, budaya perusahaan kita, haruslah memiliki kapasitas dan kepiawaian untuk melakukan creative destruction.

Sahabat semua sehubungan dengan hal ini,  dengan hormat saya mengundang Anda untuk bergabung di CEO Mastermind bersama Helmy Yahya, Gita Wirjawan dan Sandiaga Uno. Kita melakukan terobosan sekarang. Kita ambil sebagai peluang!!! Kita harus kuasai ekonomi dan bisnis di masa krisis. Sekali lagi, Waktunya adalah sekarang. Kita bersama sama bergabung dengan  Jago nya TRANFORMASI BISNIS ini  untuk meledakan bisnis anda meningkat 300%.

***


Monday, February 17, 2020

Artikel - Jangan Menolak Pria Karena Dia Miskin Saat Itu

WAHAI WANITA SINGLE, JANGAN MENOLAK PRIA KARENA DIA MISKIN SAAT ITU
Ditulis oleh : Paulus Eko Harsanto

Memiliki seorang teman selagi kecil hingga saat ini masih selalu berhubungan adalah sebuah keuntungan. Dia tahu siapa kita luar dalam. Kalau saya hitung-hitung, sampai saat ini kami sudah membina persahabatan 17 tahun lebih.

Dia memiliki keunikan. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, pemikir serius, sewaktu muda katakanlah masa sekolah SMP plus masa SMA pasukan putih abu-abu tampangnya katrok banget, kampung pol. Berangkat dari keluarga sangat sederhana (baca :miskin), tinggal di rumah kontrakan yang terus menerus berpindah. Hampir dikatakan ngak ada yang menarik dari penampilannya. Kelebihannya dia agak pinter dikit, rajin baca di bawah lampu sentir, sehingga dia belor, berkacamata.

Sebagai mana manusia seumurannya waktu itu usia (SMP-SMA) di masa puber tersebut, diapun pernah naksir lawan jenis nya.

Banyak wanita yang cantik. Banyak wanita yang menawan membuat hati sahabat saya itu tertambat. Dia naksir para gadis idamannya itu ada 10 kali, ada 10 gadis. Dan dengan keberaniannya dia “pop the question” ke banyak cewek itu. Sudah nembak 10 kali ke para gadis itu, dan dia ditolak 11 kali. Lebih banyak ditolak dan tak ada satupun yang berhasil di gaetnya.

Saat ini, waktu berjalan, sukses menghampiri dirinya. Beberapa kali pulang kampung halaman, yang terbanyak adalah menyempatkan reuni temen SMP atau SMAnya dulu. Beberapa gebetan masa lalunya, kembang hatinya masa lalu, para alumni hatinya, yang sekarang usianya di sekitar ujung 26 an tahun..ada lah yang mulai flitering berakrab-akrab dengan sahabat saya ini.

Kemudian komentarnya dalam hati waktu itu, yang ia ceritakan ke saya, "Jiah eluh, kenapa ngak dulu-dulu ndeketin ginih. Salah juga kamu sih, tidak bisa baca tanda jaman dulu-dulu. Kalau dulu kamu bisa membaca tanda-tanda jaman, pastilah aku di samping mu sekarang."

Masih dalam hati sahabat saya berkata, "Makanya kalau melihat pria bukan seberapa ganteng dia saat ini. Bukan seberapa pintar. Bukan seberapa sukses. Tetapi lihatlah seberapa 'tough' gigih dia. Kegigihanlah yang menentukan masa depan seseorang menjadi lebih baik."

Tanda-tanda jaman adalah kemampuan wanita melihat kegigihan pria. Agilitynya. Mental toughnessnya. Semangat membaranya.

Bukan dari pandainya dia bicara membual dan merayu. Bukan dari atletis tubuhnya. Bukan dari rapih dan wangi sabun mandinya. Sekali lagi, lihat dari kemampuan MANTUL nya ketika jatuh. Dari tetap senyumnya ketika lelah. Dan dari sempatnya memberi perhatiannya walau hidup berkekurangan.

Nah, sekarang kita baru masuk ke bisnis. Karena dari gambaran di ataslah, saya ingin sahabat menjadi seperti pria yang mapan, yang gigih tadi. Seperti sahabat saya ini.

Apa arti kegigihan itu? Bagaimana sih menjadi tetap “gracefull under presure”? Apakah anda “crack” pecah di bawah tekanan atau anda malah fight abis-abisan?.

Ketika “shit happened” dalam kehidupan anda? Apa yang anda lakukan?

Pikiran saya ketika menulis ini ke flash back di awal tahun 2013 an. Dimana salah satu periode hidup saya juga jatuh, crash down. Berantakan. Maka yang saya lakukan kala itu adalah, memulainya lagi.

Berdiam diri tidak mungkin membalikan keadaan dengan cepat itu pendapat saya. Masalahnya saya minus, berhutang dan di kejar kewajiban.

Berusaha , berwira usaha, ya merintih dan tertatih karena yang membuat saya bangkrut karena berwirausaha, mana aja pegawai bangkrut yang ada hanya "jobless". dunia ngak runtuh-runtuh amat.

Karena berwirausaha (kondisi saya saat itu). Modal habis, aset habis, hutang menumpuk, kewajiban jalan terus tak berkurang. Terus ...wirausahanya di apakan?

Ya fokus di usaha tadi. Untuk menghidupi organisasi, orang tua ngak usah tahu masalah kita. Ngak semua orang kuat dan bertahan di kala susah. Pegawai bagus yang percaya diri akan memilih mencari karir baru.

Yang tersisa hanya 2 type. Yang pecundang karena tidak bisa diterima dimana-maa. Atau yang loyal. Dia mungkin bukan terburuk dan pasti bukan terbaik, yang biasa saja, tapi dia loyal.

Dalam peristiwa saya, seperti dugaan. Yang pinter ya keluar. Yang loyal bertahan. Yang pecundang saya keluarkan. Dan urusan dapur, saya cari utang-an saya cari proyek.

Tiap hari, jalan keluar rumah dari pagi sampai malam, silaturahmi ke sana ke mari. Dan saya selalu “looks succes”. Baju rapih, sepatu kinclong dan banyak bertanya, banyak mendengar. Ini adalah sebuah ilmu yang saya dapat dari mentor saya orang hongkong bernama Brian Wong. Orang yang galak, demanding, asshole pol.

Kala itu, saya kerja di sebuah pabrik cat, di tahun 2013, gajih pertama saya Rp 1.800.000. Dan sampai saat ini saya masih pajang slip gajih tersebut. Saya juga selalu ingat gajih pertama saya tersebut dipakai untuk apa. Karena hal itu ditanyakan oleh atasan saya, "What you gonna do with your first salary?"

Saya tabung? Saya jawab dengan setengah pede.. "Bullshit!!" katanya lagi, "I dont trust you". Saya bilang kemudian, "Saya traktir temen temen dan keluarga". Yang di jawab olehnya, "Stop this none sense!, you spend on that for what?", Apa yang saya akan dapat dengan mentraktir orang-orang? Rasa hormat? Kebanggaan. Belum pantes luh! Itu kata-kata keras darinya.

"Semua orang succes itu ‘delay gratitute' menunda kesenangan", Kata atasan berapi-api.

"Jadi saran saya, buy the best suit. Invest on your “looks”!". Jadi saya disarankan untuk “mendandani” penampilan saya. Beli busana kantor terbaik. Brian melanjutkan, "Beli yang bermerk, beli yang 'in fasion'. Beli yang mahal. Habiskan seluruh pendapatan kamu untuk 'looks succes'. Kamu toh masih tinggal di rumah keluarga bukan, masih bisa makan bukan?," Itu kalimat atasan saya yang demanding.

Dan tahu apa yang dilakukan? Dia menemani saya belanja. Shoping for style. Kepaksa banget saya yang santai dan informil dipaksa rapih dan formal. Masuk ke hugo boss outlet, beli satu baju, uang saya habis. Satu baju, pakai chufling manset 2 pair. Uang sebulan gajih musnah.

Bulan berikutnya di pepet lagi saya, beli celana di St michael dan sabuk. Lalu gone, uang saya musnah. Bulan berikutnya, sampai 5 bulan kalau tidak salah. Kami ke armani, ferogamo, dan jas ke hugo boss.

Karena gajih saya habis saya harus gerak mendapatkan ekstra income, yaitu dengan komisi. Jadi di sela kerjaan rutin di divisi treasury, nyambi juga dengan jualan deposito. Divisi ini memberikan komisi yang lumayan, 025% dari setoran. Keluar di bulan ke 2 setelah buka rekening deposito.

Apa yang terjadi 6 bulan setelah saya kerja. Orang kalau lihat saya ya gayanya seperti manajer muda sebuah bank asing. "A man with very sharp looks with shining shoes", duh belagu deh pokoknya. Bayangin aja. Single. Dan ‘looks success”. Sekali lagi saya ulangi menulisnya. "Looks success". Hanya tampangnya doang yang sukses. Kitanya mah kantongnya masih tipis. Dompet hanya buat ganjel pantat doang. Biar empukan dikit kalau duduk di bangku keras.

Tapi mungkin ini juga yang membuat saya ada kemudahan mendapatkan klien deposito tadi ya. Habis yang dateng klimis kinyis kinyis gitu, hahaha. Atau lain lagi, yang buka rekening deposito kasihan sama saya yang sudah susah susah bergaya sukses. Berdrama sukses di depan dia dan dia hargai lah drama saya. Ini anak sebenernya tong kosong. Gayanya doang terlihat sukses. Ya udah kasihan. Masuk sedikit deh buka deposito sama dia. Paling begitu perasaan mereka ya.

Jadi “moral lesson” yang saya mau lanjutkan ceritanya adalah, saya tetap “looks success” bergaya sukses di tahun 2013 an di kala “shit happen” dalam kehidupan saya. Kemana-mana selalu rapih datang ke kantor teman. Bawa teman yang punya mobil sebagai gandengan ketika menuju suatu tempat. Saya biasa membawa teman saya yang kecil si kancil yang saya tulis di awal.

Dia tahu niat saya. Jadi ketika “mencari” proyek dengan bertandang ke banyak tempat, saya terlihat meyakinkan (dengan bawa dia dan mobil kerennya). Sulit loh berlagak sukses di kala tekanan bertubi-tubi. Dan saya belajar banyak dari peristiwa tersebut. Banyak belajar untuk tetap “grace under preasure” karena sekali kita gentar orang di hadapan kita terasa.

Urusan ini, saya belajar dari teman saya si kancil itu. Dia mahir sekali memerankan hal ini. Dia gigih. Dia sabar. Dia pendengar yang baik. Dia lucu. Dia santun.

Walaupun dulu dia terlihat kerempeng, katrok, yang sampai sekarang juga begitu, tapi vibrasi yang diberikannya, positif banget. Karena itu dia sukses benaran. Dalam proses saya, dia mentori saya terus di setiap “porspecting”. Yang ternyata berbuah dengan baik.

Pelajaranya yang saya dapat adalah : mata kita, wajah kita, kata-kata kita, tidak boleh ada keluhan. Tidak boleh ada getaran minus. Pertahankan getaran semangat. Pertahankan getaran polos, netral, dan beri kesan anda adalah solusi. Ngak gampang, tidak nyaman, namun drama tersebut harus dimainkan. Peran tersebut harus dengan sepenuh hati di jalankan. Looks success itu membawa sukses...dan success Its a part of a life. 

***
"Laki-laki tidak harus [lebih] HEBAT, tetapi harus [lebih] GIGIH"

Cerpen - Caraka

  CARAKA Oleh : Paulus Eko Harsanto   Hana caraka, data sawala Padha jayanya, maga bathanga *** Engkau percaya dengan berbagai b...