Thursday, April 9, 2020

Makalah - Tuhan Pilih Kasih (?)


Tuhan Pilih Kasih (?)
Sebuah makalah atas perikop “Anak yang Hilang” (Luk. 15:11-32)
 Ditulis oleh : Paulus Eko Harsanto
 ***
PENGANTAR
Ada satu perumpaan yang sangat populer dari Injil Lukas: perumpamaan anak yang hilang. Perikop dari Injil Lukas itu identik dengan makna pertobatan dan nilai kasih sejati antara si bungsu dengan ayahnya, hingga saat ini.
Meski begitu, ada satu bagian di akhir kisah yang kerap kali terlewatkan oleh perhatian umat kristiani. Bagian itu mengisahkan sikap iri hati dari si sulung yang tidak terima atas sikap sang ayah terhadap adik lelakinya itu. Menanggapi sikap si sulung, sang ayah hanya mencoba menghiburnya dengan sejumlah nasihat.[1] Tanggapan itu begitu singkat, berbeda dengan perhatian sang ayah yang sedemikian besar kepada si bungsu. Ada apa di balik semua itu? Sedemikian besarkah kasih sang ayah kepada si bungsu? Apakah sang ayah pilih kasih? Lebih jauh lagi, apakah Tuhan sendiri pilih kasih?
Itulah yang hendak kami jawab melalui makalah ini. Pada makalah ini, kami akan mencoba mengulas serta menafsirkan perikop “Anak yang Hilang” dari Injil Lukas dari sudut pandang yang berbeda; sudut pandang anak sulung yang iri hati terhadap adiknya dan tidak menerima sikap sang ayah yang “pilih kasih”. Berikut adalah pembahasannya.

ISI
A.    Anak Sulung dalam Kitab Suci
B.    Pergulatan si Sulung
Anak sulung di dalam perumpamaan itu memang memiliki tantangan yang tidak biasa. Terlebih lagi ketika dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
Menjadi sangat jelas bahwa kepulangan adiknya yang merupakan anak bungsu cukup mengejutkan dirinya. Anak bungsu sudah cukup lancang mengambil harta ayahnya yang menjadi bagian warisannya. Hal ini secara tidak langsung juga melecehkan ayahnya yang masih hidup. Pemberian warisan biasa dilakukan ketika bapa keluarga sudah meninggal. Sementara itu, anak bungsu itu pulang kembali kepada bapanya. Padahal dengan mengambil harta warisannya, anak bungsu dianggap sudah dapat hidup mandiri dan bisa tinggal terpisah dari ayahnya.
Sebagai anak sulung yang ‘disulungkan’, hal ini tentu memicu kemarahannya. Harga dirinya sebagai perpanjangan tangan ayahnya seakan diinjak-injak. Terutama dengan kedatangan anak bungsu yang banyak menyita perhatian ayahnya. Kemarahan itu semakin memuncak di dalam kata-katanya[2]. Bahkan, anak sulung dengan kasar menyebut anak bungsu dengan istilah ‘anakmu’ (berdasarkan terjemahan asli dari Injil Lukas)[3]. Anak sulung tidak lagi mengakui anak bungsu sebagai adiknya. Begitu pula ia tidak mengakui ayahnya lagi.
Kemarahan ini memang merupakan suatu hal yang sangat wajar sebagai seorang manusia. Terutama dengan melihat latar belakang anak sulung ketika dihadapkan kepada sikap Bapa kepada anak bungsu. Bisa dikatakan pula bahwa sikap ini menyatakan sifat kedagingan anak sulung. Manusia sangat lemah dengan godaan. Kedatangan anak bungsu dan perilaku Bapa sangat jelas memunculkan rasa iri di dalam diri anak sulung. Iri hati inilah yang sangat mudah masuk ke dalam kehidupan manusia. Hal ini termasuk di dalam salah satu dari tujuh dosa pokok yang senantiasa mengiringi langkah hidup manusia[4] . Menjadi jelas bahwa di balik perumpamaan anak yang hilang ada pula sosok anak sulung yang iri hati.
Akan tetapi, Yesus mengajak para pengikutnya untuk menjadi manusia yang berbeda. Sikap Bapa kepada anak sulung dengan sangat jelas menggambarkan hal ini. Beberapa tafsir kitab suci menganggap bahwa perumpamaan ini ditujukan kepada para Ahli Taurat dan Farisi. Namun, perumpamaan ini ternyata juga bisa menjadi sangat relevan bagi semua pengikut Yesus. Dengan penuh kasih, Bapa berpesan kepada anak sulung, “Anakku… segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”[5] Anak sulung sudah tidak lagi menganggap keberadaan ayahnya. Tetapi Bapa masih menganggap anak sulung sebagai anaknya. Bapa mengajak anak sulung untuk menjadi saleh dan baik hati. Ia ditantang untuk tidak memandang suatu peristiwa dengan melihat ganjarannya.[6] Hal ini juga sejalan dengan ajaran Kristiani yang tidak mempercayai adanya karma[7]. Sikap Bapa menunjukkan sikap Allah Bapa sendiri yang maha pengasih. Ia menerima semua anaknya apa adanya. Ia juga peka terhadap kondisi dan pergulatan anak-anaknya. Akan tetapi, apakah berarti perbedaan perilaku yang ditunjukkan Bapa kepada kedua anaknya ini menunjukkan sikap Allah Bapa yang pilih kasih kepada manusia?

C.      Amanat Lukas
Melihat konteks zaman, banyak hal yang ingin disampaikan Lukas pada jemaat zaman itu. Telah diketahui bahwa secara garis besar, jemaat zaman itu adlaah jemaat yang sedang kehilangan pegangan  iman akan Yesus Kristus. Bisa dikatakan bahwa jemaat jauh dan kurang percaya akan adanya Yesus Kristus. Oleh karena itu, ada saru tugas pokok yang ingin diembang oleh Lukas, yakni meyakinkan dan mengembalikan iman jemaat akan Yesus Kristus.
Perumpamaan tentang anak yang hilang juga menjadi sarana Lukas untuk mengembalikan iman jemaat akan Yesus. Sebenarnya perumpamaan tentang anak yang hilang dapat dilihat dari dua sisi, yakni anak sulung dan anak bungsu. Karakter anak bungsu menggambarakan sebagian besar jemaat zaman itu, yakni yang kehilangan pegangan. Dapat dilihat bahwa anak bungsu meninggalkan bapanya yang menggambarkan Yesus untuk berfoya-foya dan memuja barang duniawi. Pada saat itu, jemaat jauh dari Yesus sendiri. Lukas begitu cerdas karena memberikan gambaran kesengsaraan anak bungsu yang berfoya-foya dan meninggalkan bapa. Gambaran kesengsaraan ini diharapkan mampu menggabarkan bagaimana kondisi jemat kelak seandainya jauh dari Yesus. Lebih tegas lagi bahwa Lukas ingin menunjukkan bahwa jemaat yang jauh dari Yesus berada dalam jalur yang salah.
Perspektif kedua dapat dilihat dari sudut pandang anak sulung yang sudah dekat dengan Bapa. Karakter anak sulung menggambarkan sebagian kecil jemaat yang sudah percaya akan adanya sang juru selamat, yakni Yesus sendiri. Kisah anak sulung mampu menggambarkan sifat bangsa yang iri hati pada bangsa yang bertobat (digambarkan dengan anak bungsu yang kembali kepada Bapa). Lukas ingin menyampaikan bahwa tidak selayaknya  bangsa yang percaya mempunyai rasa benci dan  iri pada jemaat yang bertobat, melainkan menerima sebagai saudara yang percaya pada Allah.
Di lain sisi perumpamaan tentang anak yang hilang ingin menyampaikan sosok Yesus sendiri yang Maha Pengampun. Kisah Bapa yang mau menerima kembali anak bungsu, ingin mengungkapkan kepada jemaat ketidakpercayaan akan Yesus bukan akhir dari segalanya, melainkan ada kesempatan untuk bertobat dan kembali pada Yesus yang pasti akan menerima dengan baik. Bagi anak bungsu, Yesus Maha Pengampun, tapi bagi anak sulung, sungguh kan  Yesus Maha Adil?

D.      Tuhan Pilih Kasih ?
Kisah tentang anak yang hilang ada dalam injil Lukas bab 15. Kisah itu termasuk dalam rangkaian kisah yang hendak menggambarkan sosok Allah sebagai Bapa pada Lukas bab 15, yang dalam arti tertentu dapat disebut pusat injil Lukas.[8] Allah adalah Bapa Yang Mahabaik, yang mencari domba-domba-Nya, yang menunggu dengan setia setiap orang yang kembali ke pangkuan-Nya.[9] Maka dapat disimpulkan pula bahwa Allah digambarkan sebagai Bapa yang Mahapengasih dan Penyayang.
Kembali pada kisah anak yang hilang. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa sang ayah dalam kisah itu mengasihi kedua anaknya, namun memberikan perhatian yang berbeda kepada masing-masing dari mereka. Sang ayah seolah lebih mengasihi si bungsu daripada si sulung yang tekun dan setia dalam pekerjaannya. Diadakannya pesta bagi si bungsu yang bertobat dan kembali padanya, sementara si sulung tidak pernah mengalami perlakuan yang serupa dengan segala jerih payah yang ada padanya. Dengan demikian, apakah sang ayah pilih kasih? Lebih dalam lagi, apakah Lukas juga menggambarkan sosok Tuhan yang sedemikian rupa? Bapa yang pilih kasih, itukah sosok Allah yang dimaksud oleh Lukas?
Sebagai anak sulung yang ‘disulungkan’, si sulung dipandang sebagai sosok anak yang tekun, dewasa dan setia dalam tanggung-jawab. Dengan pandangan itu, sang ayah berusaha meyakinkan si sulung bahwa dia pun mengasihinya.[10] Dia melakukannya dengan cara yang tidak bertele-tele; singkat, padat dan jelas, dengan keyakinan bahwa si sulung tidak memerlukan perhatian dan pendampingan yang sedemikian besar layaknya yang diberikan sang ayah kepada si bungsu. Di sanalah tersirat sebuah pesan yang hendak disampaikan oleh sang ayah kepada si sulung, ”Adikmu sedang membutuhkan perhatian yang lebih daripada dirimu.” Tentu perhatian yang dimaksud tidak bisa disamakan dengan kasih sayang yang berbeda ukuran. Kasih memang tertuang dalam wujud perhatian, namun hal itu tidak memutlakkan subyek alias pelaku dari kasih itu sendiri untuk memberikan perhatian yang sama kepada setiap orang di sekitarnya.
Sang ayah tidak menyangkal kesetiaan si sulung. Sesuatu yang lebih penting terjadi di sini: seorang anak dan saudara telah kembali dari kematian.[11] Sang ayah tidak pilih kasih, sebaliknya, dia mengasihi semua anaknya dan dengan demikian mengajak si sulung untuk ikut merayakan kepulangan si bungsu bertolak dari kasihnya itu. Namun bagaimana hal itu menunjukkan kasih yang “sama” kepada kedua anak, baik sulung maupun bungsu?
Si sulung terbutakan oleh harta milik dan rasa benar sendiri.[12] Dia jatuh dalam rasa pamrih yang diperolehnya dari rasa irinya pada si bungsu yang memperoleh perlakuan yang begitu istimewa dari sang ayah, sementara dia tidak memperoleh hal serupa dengan segala kesetiaan dan kerja kerasnya selama itu. Inilah yang hendak diluruskan oleh sang ayah. Dia ingin membuka mata si sulung dari keterbutaannya itu, menyelamatkannya dari roh jahat yang menjeratnya dalam rasa iri hati dan pamrih diri.  Sekali lagi, sang ayah tahu bahwa si sulung sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang dia maksud. Maka dia tidak bertele-tele dalam mendampinginya sebagaimana dia mendampingi si bungsu (meski tidak berarti bahwa sang ayah lantas bertele-tele dengan si bungsu. Yang ditekankan di sini adalah intensitas perhatian yang nyata dan memang berbeda kepada diri mereka masing-masing. Meski begitu, perbedaan itu tidak lantas menunjukkan intensitas kasih yang berbeda kepada masing-masing anak). Dengan demikian, sang ayah telah menunjukkan kasih yang tidak kalah besar daripada kasihnya kepada si bungsu. Dia telah menunjukkan kasih seorang ayah yang tidak ingin anaknya jatuh dalam jerat tipu roh jahat apapun bentuknya, baik itu materialisme (si bungsu) maupun egosentrisme yang mewujud dalam rupa iri hati dan pamrih diri (si sulung). Dia ingin semua anaknya bersuka-cita bersamanya, dalam rangka kepulangan si bungsu dari kematian. Maka jelaslah bahwa sang ayah bukanlah bapa yang pilih kasih, demikian juga dengan sosok Allah Bapa yang dimaksud oleh Lukas.
Semua itu menggambarkan pula gambaran kasih Tuhan. Layaknya orangtua yang mengasihi anak-anaknya, tak mungkin orangtua memberikan perhatian kepada anak mereka yang sudah kuliah sebagaimana mereka memberi perhatian kepada anak mereka yang masih bayi. Orangtua tetap mengasihi mereka masing-masing, meski dengan bentuk dan intensitas perhatian yang berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan Allah pada diri kita, umat manusia. Bagi kita yang “sudah menjadi sulung”, Allah berkenan agar kita bertekun setia dalam pekerjaan dan tugas-tanggung jawab kita masing-masing bagi Tuhan dan sesama secara rendah hati dan tanpa pamrih, sembari bersadar diri bahwa kita bukanlah lagi bayi yang harus “ditimang dan disusui”.
Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Gereja tidak identik dengan komunisme; sama rasa, sama rata. Wujud kasih sayang sang ayah dalam kisah anak yang hilang dengan tegas menunjukkan hal itu. Kasih diungkapkan-Nya dengan intensitas yang sama kepada semua orang, namun dalam wujud serta intensitas perhatian yang berbeda satu-sama lain. Sebab jika iya, maka tidak akan ada perbedaan tingkat kesejahteraan hidup di dunia ini. Semua orang akan hidup dalam kemakmuran yang begitu berlimpah. Namun, justru dalam perbedaan itulah Allah hadir bagi umat-Nya. Dia mengasihi semua umat-Nya dengan cara yang unik dan berbeda bagi masing-masing orang.
Bertolak dari hal itulah muncul sebuah pegangan dalam Gereja itu sendiri, khususnya dalam kalangan hirarki: nemo dat quod non habet, sebuah pegangan yang mendorong Gereja untuk bekerja dalam kesetiaan dan ketekunan layaknya si sulung guna memperoleh apa yang mereka butuhkan untuk kemudian diberikan bagi Tuhan dan sesama. Hanya saja dalam ketekunan dan kesetiaan macam itulah lahir godaan seperti kesombongan, iri hati dan pamrih diri (layaknya yang dialami oleh si sulung). Hal ini telah dijumpai oleh banyak orang dewasa ini dalam gempuran arus globalisasi yang begitu erat dengan arus kompetisi dan menuntut ketekunan diri. Dalam situasi itu, kita semestinya sadar diri dan sadar posisi. Apakah kita tergolong sebagai si bungsu, atau si sulung? Apabila kita tergolong sebagai si sulung, maka dalam kekayaan akan keutamaan yang ada pada diri kita sudah semestinyalah kita berbagi pada sesama; bukannya begitu saja menuntut upah yang setimpal atas apa yang telah kita perbuat. Perumpamaan kasar dari kalangan orang jawa sangat mewakili hal ini: wong tumindak becik kuwi kudune kaya wong ngising nang kali, yen wis ceblok, yo keli nang kali. Dengan demikian, kita sadar pula akan kasih Allah yang sejati dan sesungguhnya tidak pilih kasih; sebuah teladan yang semestinya pula kita teladani.


[1]Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersuka-cita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”(Luk. 15:31-32)
[2] Lih. Luk 15, 29-30
[3] Lembaga Biblika Indonesia.Tafsir Perjajian Baru 3 : Injil Lukas.Penerbitan Yayasan Kanisius.Yogyakarta:1981. hlm. 176
[4] Refrensi roh baik dan roh jahat?
[5] Lih. Luk 15, 31
[6] Dister. Dr. Nico Syukur OFM.Kristologi, Sebuah Sketsa.Penerbit Yayasan Kanisius.Yogyakarta:1978.hlm. 77
[7] Refrensi arti karma.
[8] Ig. Soeharyo, Pengantar Injil Sinoptik, …, Hal. 122.
[9] Ig. Soeharyo, Pengantar Injil Sinoptik, …, Hal. 122.
[10]Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu… (Luk. 15:31)
[11] Tafsir Alkitab PB, hal. 143
[12] Bdk. Tafsir Alkitab PB, hal. 143

Tulisan Refleksi - Sebilah Kaki Keparat


Sebilah Kaki Keparat
 (Kisah peregrinasi kami menyusuri jalan Mertoyudan Magelang menuju Novisiat Girisonta)
Ditulis oleh : Paulus Eko Harsanto
***
“Isih kuat ora, Ko?”
Aku terhenyak. Nyeri membelit kaki kananku.
“…ora.”

Peregrinasi. Tak satupun persiapan kulakukan menjelang peziarahan itu, dan dengan congkaknya aku memulai langkah awalku bersama rekan-rekan John De Britto. Ego menyelinap dalam hening perjalananku, mulai dari gerbang seminari.
Ego itu menjelma dalam langkah yang terlampau cepat. Satu hal berkelebat memenuhi benakku, aku harus segera sampai ke Girisonta. Langkahku mewarnai irama langkah teman-temanku, membuat kami berjalan dengan begitu cepatnya, sedemikian cepat, hingga dalam kurun waktu kurang dari tiga jam kami sudah tiba di perbatasan Secang. Kami pun beristirahat.
“Wah, edan! Mlakune kaya setan, cah!”
“Iya, ora dinikmati. Bar iki alon wae, piye?”
Kudengar pembicaraan teman-temanku. Aku berbaring di atas balok beton pendek di pinggir jalan, diam tak berkomentar. Sesekali saja aku turut berbincang dengan mereka. Aku lebih sibuk berkubang dalam benakku. Aku harus segera sampai ke Girisonta.
Kami melanjutkan perjalanan. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat dan meminta minum pada warga. Tak ada kendala, dan kami terus berjalan. Namun sayang, ego masih memenuhi benakku, merusak irama langkah kami hampir sepanjang jalan. Aku bahkan sempat berkata pada Oki dan Nando saat kami beristirahat di sebuah angkringan, “Gimana kalau kita terus berjalan sampai Ambarawa, tanpa istirahat?” Saat itu sudah pukul tujuh malam,  dan dengan kesal Nando menjawab, “Edan pa, kowe!” Keegoisanku pun berbuah beberapa jam kemudian.
***
“Nah, kuwi perbatasane!”
Kami terhenyak. Seruan Oki memecah hening langkah kami. Hari sudah malam, sekitar pukul setengah sebelas.
“Perbatasan apa, Ki?”
“Perbatasan Ambarawa.”
Aku diam seribu bahasa. Nyeri berdenyut di telapak kaki kiriku jauh sebelum kami tiba di perbatasan. Aku memaki dalam batin. Sial, aku harus sampai Girisonta.
Kusiasati dengan memusatkan berat badan pada kaki kananku. Kami terus melangkah, melangkah dan melangkah. Tipisnya sandal mengizinkan bebatuan memijit keras kedua telapak kakiku. Lambat laun nyeri hilang dari kaki kiriku, namun sayang, nyeri itu tak mau pergi begitu saja dari kakiku.
Langkahku memincang. Kami sudah tiba di Bedono saat itu. Danang memperhatikan langkahku yang janggal.
“Isih kuat ora, Ko?”
Aku terhenyak. Nyeri membelit tumit kananku. Engkel.
“Masih, nang.”
Kami terus berjalan. Perlahan nyeri itu menguat, meremukkan tumit kananku. Langkahku semakin pincang. Aku memaki dalam batin. Aku harus sampai Girisonta.
Kulihat jamku. Pukul sebelas malam. Biasanya kami beristirahat sekitar sepuluh menit setiap satu jam, dan aku benar-benar kecanduan istirahat. Aku harus istirahat, batinku. Dan benar, kami beristirahat di dekat sebuah swalayan kecil. Damas dan Oki membeli makanan. Kusantap sekeping gula kacang sembari mengurut tumit kananku. Teman-temanku kembali bertanya, “Piye Ko, isih kuat?” Aku pun menjawab, “Isa tak peksa nganti Ambarawa.”
Kami kembali berjalan. Langkahku semakin memincang. Kembali kumaki diriku sendiri. Piye iki?
Tiba-tiba langkahku terhenti.
Uahh… Sial…
Kami berhenti di pinggir jalan. Oki bertanya padaku,
“Ko? Piye?”
Aku terhenyak. Dalam diam kurasakan nyeri yang begitu hebat. Cepatnya langkahku mengacaukan seluruh anggota bawilku, juga diriku sendiri. Egoku merusak segalanya.
Dengan putus asa, kugelengkan kepalaku.
“Ora.”
Kami sempat kembali beristirahat, dan kembali melanjutkan perjalanan. Damas dan Manggala bahkan sempat memapahku, namun aku pun tetap memaksakan diri untuk melangkah seorang diri. Aku tak mau menjadi beban bagi teman-temanku. Bertongkatkan sebatang kayu aku melangkah pincang, hingga akhirnya aku tak sanggup lagi untuk melangkah. Seluruh anggota bawilku kecewa. Haruskah kami gagal?
Hanya ada dua pilihan: tetap meneruskan perjalanan dengan meninggalkanku bersama salah seorang dari kami, atau berhenti dan mencegat bis atau pick up untuk kami naiki menuju Ambarawa. Akhirnya Oki mengambil keputusan yang jauh dari rencana kami sebelumnya:
Menghentikan peregrinasi kami di Ambarawa.
Kami pun beristirahat di teras sebuah rumah di pinggir jalan Bedono. Berselimutkan selembar handuk, kami tidur berdesak-desakan. Esoknya kami tiba di Ambarawa dengan sebuah bis, beristirahat di rumah Oki, dan mengikuti ekaristi di gereja Jago, Ambarawa. Siangnya kami kembali ke Mertoyudan.
***
Hatiku remuk, seremuk kaki kananku. Aku down, benar-benar down. Aku tahu teman-temanku kecewa, dan semua itu terjadi oleh karena egoku. Di seminari aku pun menutup diri. Namun teman-temanku tidak menyalahkanku. Mereka tetap menerimaku, bahkan berkata padaku, “Itu bukan salahmu. Itu hasil diskresi kita bersama.” Aku terharu. Egoku dibalas dengan altruisme yang begitu dalam, sebuah kekeluargaan yang sangat berharga. Di sinilah aku sadar, tak hanya aku yang mengalami pergulatan batin. Mereka pun mengalami hal itu, terlebih saat harus memutuskan untuk menghentikan perjalanan kami saat itu. Mereka rela melepas ego, demi diriku.
Kami memang tidak sampai ke Girisonta. Kami “gagal”, namun dalam kegagalan itu kami justru memperoleh rahmat yang berlimpah, rahmat kekeluargaan dan kerendahan hati. Aku pun belajar untuk lebih menyamakan “langkah”ku dengan “langkah” teman-temanku berpedomankan altruisme dalam hati.
Sebilah kaki keparat telah menjegal langkah kami menuju Girisonta, sebilah kaki keparat dengan ego yang pekat mencekat. Namun, jegalannya justru mengantar kami menuju rahmat yang jauh lebih berlimpah. Mungkin inilah jalan yang Tuhan tunjukkan, untuk mengantar kami pada limpahan rahmat-Nya. Kutemukan rahmat kerendahan hati, melalui sebilah kaki keparat ini.
 ***



Sudut Pandang Budaya - Kesenian Wayang Kulit yang Mulai Tidak Tampak Eksistensinya


Kesenian Wayang Kulit
yang Mulai Tidak Tampak Eksistensinya
Oleh : Paulus Eko Harsanto
 ***
Salah satu seni-budaya warisan nenek moyang kita yang dulu sangat populer dan dinanti-nanti kehadirannya oleh masyarakat baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan: kesenian Wayang Kulit kini tampak berjuang keras mempertahankan eksistensinya. Lambat laun jumlah penggemarnya pun mulai berkurang-tak sebanyak dulu lagi. Memang ada banyak faktor penyebab berkurangnya animo masyarakat terhadap seni Wayang Kulit ini, salah satunya adalah munculnya dunia hiburan produk asing yang telah menjarah seluruh pelosok wilayah di Indonesia ini. Tidak hanya di kota-kota metropolitan bahkan di dusun-dusun terpencil pun sudah bisa kita rasakan pengaruh Terminator, Spiderman, Superman, Batman,  pelbagai sinetron Indonesia dan sebagainya, menggantikan kehadiran tokoh-tokoh pewayangan seperti Puntadewa, Werkudoro, Janaka, Sri Raja Kresna, Sang Panakawan-Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dan seterusnya. Anak-anak kita kini tampaknya lebih familiar dengan nama-nama super-hero asing, games di Warnet-warnet dan tempat permainan terdekat dan Handphone itu daripada nama-nama tokoh pewayangan atau cerita rakyat negeri sendiri.  Anak-anak kita itu (juga sebagian dari kita) kelihatannya merasa lebih sreg, modern dan bonafide bila bisa mengikuti perkembangan dunia super-hero produk asing itu. Mereka pun tampaknya bangga sekali kalau memiliki nama dan atribut yang digunakan oleh super-hero asing itu. Sebaliknya mereka akan berkerut tidak mengerti atau malah mungkin menolak mentah-mentah ketika diperkenalkan dan diajak rembugan atau nonton sajian Seni Wayang Kulit yang notabene produk negeri sendiri dengan segala keindahannya itu. Sungguh amat disayangkan bila anak-anak kita, generasi penerus seni-budaya dan tradisi kita sudah mulai tidak mengenal dan tidak peduli lagi pada seni budaya dan tradisi luhur nenek moyang yang tercipta, tumbuh dan berkembang melalui sebuah proses panjang dan tak mudah itu. Sepertinya sinyalemen adanya sikap-sikap ketidakpedulian dan ketidakmauan anak-anak kita untuk mengenal, menggali, dan mempelajari seni budaya dan tradisi luhur itu bukanlah sesuatu sikap yang mengada-ada atau ketakutan yang tidak beralasan. Di saat yang seperti ini usaha dan karya nyata para pecinta dan aktivis (baca: seniman/seniwati) seni-budaya dan tradisi luhur yang mengakar di Bumi Pertiwi sungguhlah amat kita butuhkan. Bukan hanya untuk tujuan 'ngleluri' (melestarikan) tapi sekaligus 'menggethok-tularkan' (mengajarsampaikan, menyebarluaskan, membimbing) anak-anak kita yang sudah sedemikian 'kepincut' dan 'kedanan' dengan tokoh-tokoh super-hero produk asing yang tampil silih-berganti di layar TV setiap hari di tengah ruang keluarga kita. Akan lebih menggila lagi pengaruh super-hero asing itu bila ada fasilitas unit komputer beserta aneka variasi video games dan permainan animasi di rumah, sehingga tidak pelak lagi semakin bertubi-tubi pula pengaruh kuat super hero asing yang seringkali diwarnai dengan adegan brutal, ceceran darah, dan bisingnya suara tembakan itu kepada anak-anak kita itu. Lalu apakah kita harus menolak dan membuang semua yang berbau teknologi mutakhir dan produk asing? Tentu saja tidak demikian. Hasil karya manusia yang berupa kreasi teknologi mutakhir (baik itu kreasi domestik ataupun asing) ini malah sepatutnyalah kita syukuri dan nikmati. Kita pergunakan dengan sebuah kesadaran penuh bahwa itu semua hanyalah untuk kebaikan dan kesejahteraan kita semua, terutama anak-anak—generasi penerus kita di masa mendatang. Bila penggunaan kreasi teknologi mutakhir itu sudah mulai melenceng dari kesadaran diri itu, maka saatnya ada upaya tegas untuk menyetopnya. Sebab bila tidak kerusakan dan kehancuran saja yang akan menemani kita semua. Semoga anak-anak kita nantinya mau menengok, menggali, dan mempelajari kembali warisan seni budaya dan tradisi luhur nenek moyang kita, baik itu yang berupa seni Tari, seni pagelaran Wayang Kulit, maupun seni sastra. Sehingga nantinya gejolak sikap dan praktek brutal, tawuran, balang-balangan yang menggerogoti mental dan pola pikir anak-anak kita itu bisa terkikis bersih, digantikan oleh sebuah budaya seni edi peni yang halus dan luhur yang mampu mengasah budi pekerti dan mempertajam rasa kemanusiaan serta mengembalikan kemanusiaan anak-anak kita (juga kita) demi kebaikan dan kesejahteraan kita semua.

 ***

Terinspirasi ketika mengikuti perayaan Puncak Petrus Canisius yang mengambil sebuah tema yang cukup menarik : BERBAGI BUDAYA BERBAGI BAHAGIA


Cerpen - Tanda Tangan Pontius Pilatus


Tanda Tangan Pontius Pilatus
Oleh : Paulus Eko Harsanto

***
“Kau belum tidur, sayang?!” suara Claudia mengagetkan suaminya.
Sudah beberapa hari ini, Pilatus tidak bisa tidur. Pikirannya masih diselimuti kegelisahan dan kekecewaan yang tak tentu arah. Ia mulai sering merenung dan menyendiri semenjak menjatuhkan hukuman bagi Yesus, orang yang tak bersalah namun kematian-Nya begitu dinantikan para imam kepala.
“Aku… aku masih memikirkan hal itu!“ jawab Pilatus.
“Tentang Yesus?”
“Ya…… aku masih merasa begitu bersalah.” jawab Pilatus lirih.
“Aku tahu, aku berharap semoga dewa-dewa tetap menaungi kita.” Kata Claudia.
Sebenarnya Claudia sudah merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak baik pada keluarganya. Semalam sebelum Yesus dihadapkan pada Pilatus, Claudia mendapat pertanda lewat mimpinya tentang Yesus, karenanya ia berusaha membujuk suaminya untuk tidak menghukum mati Yesus.
“Sebenarnya yang menggelisahkanku, kenapa Yesus masih tersenyum dan berterima kasih setelah kuputuskan untuk menyalibkan-Nya?! “
Pilatus tak mampu lagi membendung air matanya yang kini mulai mengalir membanjiri wajahnya.
***
Pagi mulai merayap naik menuju tahtanya, tetapi sang malam masih menggandul, tak rela dikalahkan sang pagi. Perlahan mentari pun bersinar, berusaha menguak rahasia tabir malam. Hah…… sayang keanggunan sang pagi dirusak kerumunan masyarakat di depan rumah seorang imam agung yang sedang mengelilingi seseorang, yaitu Yesus.
“Cepat bawa orang ini!!! Para imam sudah menunggu Dia di dalam!” teriak salah seorang prajurit.
Maka Yesus pun digiring masuk ke dalam rumah, tempat berkumpulnya para imam kepala.
***
“Claudia...! Claudia…!”  Pilatus membangunkan istrinya.
Entah mengapa dari tadi malam Claudia merintih kesakitan. Pilatus mengkhawatirkan istrinya yang begitu ia cintai.
Claudia terbangun dari mimpinya kemudian memeluk suaminya. Ia baru saja tersiksa dalam mimpinya, untunglah Pilatus segera membangunkannya. Jika tidak, mungkin saja Claudia kelelahan sehingga mengganggu kesehatannya itu.
Claudia bermimpi dirinya disiksa berulang kali oleh seseorang. Bukan hanya itu saja, keluarganya pun dibuat berantakan sejadi-jadinya. Banyak negara di bawah Kekaisaran Roma memberontak, Pilatus dianggap tidak becus oleh Kaisar, sehingga ia dan keluarganya dibelenggu serta dijebloskan ke dalam penjara yang paling gelap dengan siksaan yang teramat sangat. Perlahan wajah seorang lelaki pun muncul dengan penuh luka disamping tahta Pilatus.
“A-aku……a-a-aku…… aku tersiksa dalam mimpiku sendiri!” Claudia masih ketakutan dalam pelukan suaminya.
Pilatus tidak menanggapi perkataan istrinya itu, ia tetap memeluk dan mengelus-elus rambut istrinya itu. Tak biasa istrinya begitu ketakutan. Ia yakin akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan sebentar lagi.
***
“Bawa orang ini ke hadapan Pilatus!!” Kayafas sudah muak berbicara dengan Yesus. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Yesus, selain pengakuan-Nya sebagai Mesias, Putra Allah yang Maha Tinggi.
***
Setelah membersihkan dirinya, Claudia berusaha mencari Pilatus, suaminya. Ada sesuatu yang perlu diutarakannya pada Pilatus. Setelah mencari di setiap sudut rumahnya, Claudia mendapatkan suaminya terduduk di atas tahtanya sambil meneliti data-data dari kepala pasukan.
“Suamiku, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”
Katakan saja……” jawab Pilatus sambil menoleh pada istrinya.
“Sebentar lagi… sebentar lagi… sebentar lagi seseorang akan dibawa kepadamu dan dituduh sebagai penjahat. Aku mohon, jangan menjatuhkan hukuman mati pada-Nya!” kata Claudia.
“Memangnya ada apa?”
“Aku… aku begitu menderita tadi malam karena orang itu hadir dalam mimpiku.”
“Baiklah karena kau yang meminta, aku akan berusaha membebaskan Dia.” Pilatus tersenyum pada istrinya.
***
Akhirnya arak-arakan pengantar Yesus pun tiba di pelataran gedung sidang Wali Negri. Arak-arakan diawali rombongan para imam kepala, para pasukan yang mengawal Yesus dan akhirnya semua orang Yahudi, baik yang mendukung maupun yang membenci Yesus.
Melihat kedatangan arak-arakan tersebut, salah seorang hamba laki-laki Pilatus segera berlari mencari tuannya untuk melaporkan hal tersebut.
“Tuanku, hamba melihat sejumlah orang banyak bersama rombongan para imam kepala datang dan menunggu tuanku di pelataran gedung persidangan.”kata hamba itu.
“Baiklah, aku akan menuju kesana.” jawab Pilatus.
Mendengar hal itu, Claudia segera berlari menuju kamarnya karena salah satu jendelanya berseberangan langsung dengan pemandangan pelataran gedung persidangan. Hatinya mulai gelisah ketika melihat orang yang terbelenggu di antara para pasukan. Orang itu tak lain, tak bukan adalah Yesus sendiri.
 Pilatus bersama beberapa orang kepercayaannya memasuki pelataran gedung persidangan. Pilatus menatap sekilas pada Yesus. Ia begitu heran mengapa orang seperti Dia dibawa untuk menghadap padanya.
“Semuanya tenang…!” perintah kepala pasukan.
Apakah tuduhanmu terhadap orang ini…?!” Pilatus mulai membuka persidangan.
“Tuanku, orang ini telah menyesatkan bangsa kami. Ia melarang kami membayar pajak, selain itu Ia menyebut diri-Nya raja!” Salah seorang imam kepala mulai angkat bicara.
“Baiklah, bawa Dia masuk, aku ingin berbicara sebentar dengan-Nya!”
Pilatus mengajak Yesus masuk kedalam salah satu ruangan yang berada di samping tahta Pilatus.
Sementara itu, Para imam kepala berunding bagaimana caranya memenangkan persidangan ini. Setelah berunding, mereka memutuskan untuk menghasut rakyat agar memilih Barabas, seorang pemberontak dan pembunuh kelas kakap yang ditangkap oleh Pilatus karena telah banyak membunuh Tentara Roma, untuk dibebaskan dan meminta Yesus untuk disalibkan. Beberapa anak buah imam kepala pun langsung bertindak, mereka membisikan hasutan-hasutan mereka ke dalam telinga rakyat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai rencana para imam kepala. Di luar duagaan, ternyata dengan dijanjikan gandum 2 pikulan, mereka bersedia memilih Barabas untuk dibebaskan.
Pilatus bersama Yesus kembali memasuki ruang persidangan. Pilatus masih berdiskusi bersama orang-orang kepercayaannya. Di sela-sela diskusinya, Pilatus melirik kearah kamarnya. Terlihat Claudia berdiri dengan wajah yang gelisah kemudian mengangguk kepadanya. Pilatus mengerti, orang yang ada di dalam mimpi istrinya adalah Yesus. Maka, untuk mengulur-ulur waktu, ia mengirmkan Yesus pada Herodes dengan alasan Herodes adalah penguasa daerah tempat kediaman Yesus.
“Bawa orang ini pada Herodes, bukankah ia saat ini berada di Yerusalem?” kata Pilatus.
Akhirnya dengan wajah yang agak murung, para imam kepala mengantarkan Yesus ke hadapan Herodes. Setelah itu, Pilatus pun bergegas menuju kamarnya.
***
“Yah… Dialah orang yang berada dalam mimpiku!” Claudia takut dan gelisah.
“Baiklah… aku akan melakukan yang terbaik untukmu.” kata Pilatus.
Segala macam pikiran tercampur menjadi satu dalam kepala Pilatus. Antara bingung, heran, gelisah dan pusing hanya karena masalah ini. Ia merasa bingung dan heran kenapa orang seperti Yesus yang wajah-Nya teduh dan tatapan-Nya lembut dibawa kepadanya. Dengan janji pada istrinya, Pilatus memutuskan untuk berusaha melepaskan Yesus.
***
Sama seperti saat berbincang dengan Pilatus, dihadapan Herodes pun Yesus bungkam, tak berbicara sepatah kata pun. Yesus malahan dihina oleh Herodes dan beberapa orang lainnya. Setelah puas, Herodes mengembalikan Dia pada Pilatus karena ia tak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus.
“Kalian lihat! Aku tak menemukan kesalahan pada-Nya, begitu juga dengan Herodes. Sekarang aku akan menyesah-Nya kemudian melepaskan-Nya!” titah Pilatus.
Kepala pasukan yang berdiri di samping Pilatus membawa Yesus menuju tempat penyesahan. Sesampainya disana, ia tak kuat melihat penyiksaan terhadap Yesus karena ia masih berhutang budi kepada Yesus yang telah menyembuhkan salah seorang hambanya.
Setelah dinilai cukup menderita, para pasukan mengenakan mahkota duri pada Yesus, menyelubunginya dengan kain ungu dan membawa kembali Yesus pada Pilatus.
“Lihatlah rajamu! Aku sudah menyesah-Nya, sekarang aku akan melepaskan Dia!” kata Pilatus tegas.
“Dia bukan raja kami, raja kami hanyalah kaisar! Enyahkan Dia, Salibkan Dia.” kata-kata Pilatus disambut oleh teriakan seluruh rakyat yang hadir di pelataran gedung persidangan.
Pikiran Pilatus mulai kalut, ia tidak akan menyangka begini jadinya. Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara dengan Yesus kembali.
***
“Apa-apaan mereka !? Sudah jelas orang ini tak bersalah.” kata Pilatus.
Akhirnya tiba waktunya berbincang dengan Yesus kembali. Pilatus mengajak Yesus berunding, tetapi hasilnya nihil. Yesus tetap bungkam dan sekarang Ia terkesan membiarkan diri-Nya untuk dihukum mati. Hal ini tak bisa dibiarkan karena Pilatus sudah berjanji pada istrinya untuk melepaskan Yesus. Pilatus pun teringat beberapa hari lagi adalah perayaan Paskah. Pada perayaan itu, sesuai dengan tradisi, Pilatus wajib membebaskan salah seorang tahanan. Dalam hatinya ia berharap seluruh rakyat memilih Yesus untuk dibebaskan.
***
“Sebentar lagi perayaan Paskah! Sesuai dengan tradisi, aku akan membebaskan salah seorang tahanan. Sekarang aku memiliki 2 orang tahanan, yaitu Yesus dan Barabas. Siapa yang akan kalian pilih?” Pilatus mencoba jalan ini.
Pikiran Pilatus sudah dapat ditebak oleh anggota imam kepala. Mereka mulai meminta rakyat untuk berteriak agar Pilatus membebaskan Barabas.
“BARABAS…… BEBASKAN BARABAS…… SALIBKAN YESUS……!!!” suara teriakan rakyat menggema di dalam pelataran gedung persidangan.
Melihat hal itu, Pilatus duduk lemas pada tahtanya. Ia sungguh tak menyangka mereka lebih memilih penjahat kelas kakap untuk dibebaskan. Mau tidak mau Pilatus harus mengikuti permintaan rakyat. Tetapi bagaimana mungkin? Ia tidak mungkin melepaskan Barabas yang sudah banyak memberontak dan membunuh para prajuritnya. Ia juga tidak mungkin melawan kehendak rakyat karena jika tidak dilakukan, Pilatus akan dicap sebagai pemberontak terhadap kaisar. Selain itu ia masih terikat janji untuk membebaskan Yesus.
Pilatus menyuruh hambanya membawakan air. Ia membasuh mukanya dengan harapan pikirannya dapat lebih segar. Ini merupakan mimpi buruk bagi Pilatus, rasa-rasanya jika ini mimpi buruk, ia ingin cepat terbangun dan lepas dari semua ini. Dilihatnya wajah sang istri, ia takut mengecewakannya. Ia menatap Barabas, amarahnya mulai meninggi. Ketika menatap Yesus, ia sungguh tidak pernah berpikir untuk menyalibkan orang yang tidak bersalah. Sejurus kemudian ia melihat rakyat dan imam-imam kepala yang masih berteriak meminta Barabas dibebaskan.
Perlahan keringat dingin mulai membanjiri tubuh Pilatus. Ia belum pernah mendapat persoalan seperti ini. Ia sungguh-sungguh ingin menyelesaikan ini tanpa beban, tetapi kenyataan berbicara lain. Akhirnya Pilatus lebih memilih untuk mencuci tangan dari segala macam persoalan hari ini. Ia membasuh tangannya dihadapan rakyatnya.
Salah seorang hamba Pilatus membawa salah satu gulungan surat. Pilatus menerima gulungan itu dan membukanya. Dengan tangan gemetar, keringat dingin yang membasahinya serta pikiran yang kalut dan tak tentu arah, Pilatus menandatangani gulungan surat tersebut.
“Hakimilah Dia sendiri, aku tak ingin ikut campur dalam masalah ini!” kata Pilatus seraya melemparkan gulungan surat itu ke arah imam kepala.
Senyum kemenangan menghiasai wajah para imam kepala. Sejurus kemudian mereka memerintahkan para prajurit untuk menyalibkan Yesus di bukit Golgota.
Sebelum kepala pasukan membawa Yesus, Pilatus mendekat ke arah Yesus dan terus-menerus menatap-Nya sampai Yesus dibawa oleh kepala pasukan.
“Terima kasih……” kata Yesus lirih yang hanya bisa di dengar oleh Pilatus. Setelah berucap demikian, Yesus memberikan senyum hangat-Nya pada Pilatus. Pilatus tertegun. Sesaat kemudian ia merasa tak berdaya, kakinya lemas dan ia merasa bersalah telah “menyetujui” penyaliban itu.
 ***
Beberapa minggu setelah peristiwa itu…………
“Kau belum tidur, sayang?!” suara Claudia mengagetkan suaminya.
Sudah beberapa hari ini, Pilatus tidak bisa tidur. Pikirannya masih diselimuti kegelisahan dan kekecewaan yang tak tentu arah. Ia mulai sering merenung dan menyendiri semenjak menjatuhkan hukuman bagi Yesus, orang yang tak bersalah namun kematian-Nya begitu dinantikan para imam kepala.
“Aku… aku masih memikirkan hal itu!“ jawab Pilatus.
“Tentang Yesus?”
“Ya…… aku masih merasa begitu bersalah.” jawab Pilatus lirih.
“Sebenarnya yang menggelisahkanku, kenapa Yesus masih tersenyum dan berterima kasih setelah kuputuskan untuk menyalibkan-Nya?! “
Pilatus tak mampu lagi membendung air matanya yang kini mulai mengalir membanjiri wajahnya.
“Aku tahu, kau mencoba memberikan yang terbaik. Tetapi kau juga tidak boleh tenggelam dalam masalah ini. Sekarang beristirahatlah.” Kata Claudia seraya melepaskan pelukannya.
Aku menyesal tidak mau melawan rakyat. Selain itu aku menyesal tak mendengarkan suara-Nya. Padahal saat kuajak berunding, Ia berkata padaku, “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Aku sungguh menyesal tak mendengarkan-Nya” Kata Pilatus sambil menghapus air matanya.

“Tuhan Yesus Memberkati Hidupmu”



Cerpen - Caraka

  CARAKA Oleh : Paulus Eko Harsanto   Hana caraka, data sawala Padha jayanya, maga bathanga *** Engkau percaya dengan berbagai b...