Thursday, April 9, 2020

Sudut Pandang Budaya - Kesenian Wayang Kulit yang Mulai Tidak Tampak Eksistensinya


Kesenian Wayang Kulit
yang Mulai Tidak Tampak Eksistensinya
Oleh : Paulus Eko Harsanto
 ***
Salah satu seni-budaya warisan nenek moyang kita yang dulu sangat populer dan dinanti-nanti kehadirannya oleh masyarakat baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan: kesenian Wayang Kulit kini tampak berjuang keras mempertahankan eksistensinya. Lambat laun jumlah penggemarnya pun mulai berkurang-tak sebanyak dulu lagi. Memang ada banyak faktor penyebab berkurangnya animo masyarakat terhadap seni Wayang Kulit ini, salah satunya adalah munculnya dunia hiburan produk asing yang telah menjarah seluruh pelosok wilayah di Indonesia ini. Tidak hanya di kota-kota metropolitan bahkan di dusun-dusun terpencil pun sudah bisa kita rasakan pengaruh Terminator, Spiderman, Superman, Batman,  pelbagai sinetron Indonesia dan sebagainya, menggantikan kehadiran tokoh-tokoh pewayangan seperti Puntadewa, Werkudoro, Janaka, Sri Raja Kresna, Sang Panakawan-Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dan seterusnya. Anak-anak kita kini tampaknya lebih familiar dengan nama-nama super-hero asing, games di Warnet-warnet dan tempat permainan terdekat dan Handphone itu daripada nama-nama tokoh pewayangan atau cerita rakyat negeri sendiri.  Anak-anak kita itu (juga sebagian dari kita) kelihatannya merasa lebih sreg, modern dan bonafide bila bisa mengikuti perkembangan dunia super-hero produk asing itu. Mereka pun tampaknya bangga sekali kalau memiliki nama dan atribut yang digunakan oleh super-hero asing itu. Sebaliknya mereka akan berkerut tidak mengerti atau malah mungkin menolak mentah-mentah ketika diperkenalkan dan diajak rembugan atau nonton sajian Seni Wayang Kulit yang notabene produk negeri sendiri dengan segala keindahannya itu. Sungguh amat disayangkan bila anak-anak kita, generasi penerus seni-budaya dan tradisi kita sudah mulai tidak mengenal dan tidak peduli lagi pada seni budaya dan tradisi luhur nenek moyang yang tercipta, tumbuh dan berkembang melalui sebuah proses panjang dan tak mudah itu. Sepertinya sinyalemen adanya sikap-sikap ketidakpedulian dan ketidakmauan anak-anak kita untuk mengenal, menggali, dan mempelajari seni budaya dan tradisi luhur itu bukanlah sesuatu sikap yang mengada-ada atau ketakutan yang tidak beralasan. Di saat yang seperti ini usaha dan karya nyata para pecinta dan aktivis (baca: seniman/seniwati) seni-budaya dan tradisi luhur yang mengakar di Bumi Pertiwi sungguhlah amat kita butuhkan. Bukan hanya untuk tujuan 'ngleluri' (melestarikan) tapi sekaligus 'menggethok-tularkan' (mengajarsampaikan, menyebarluaskan, membimbing) anak-anak kita yang sudah sedemikian 'kepincut' dan 'kedanan' dengan tokoh-tokoh super-hero produk asing yang tampil silih-berganti di layar TV setiap hari di tengah ruang keluarga kita. Akan lebih menggila lagi pengaruh super-hero asing itu bila ada fasilitas unit komputer beserta aneka variasi video games dan permainan animasi di rumah, sehingga tidak pelak lagi semakin bertubi-tubi pula pengaruh kuat super hero asing yang seringkali diwarnai dengan adegan brutal, ceceran darah, dan bisingnya suara tembakan itu kepada anak-anak kita itu. Lalu apakah kita harus menolak dan membuang semua yang berbau teknologi mutakhir dan produk asing? Tentu saja tidak demikian. Hasil karya manusia yang berupa kreasi teknologi mutakhir (baik itu kreasi domestik ataupun asing) ini malah sepatutnyalah kita syukuri dan nikmati. Kita pergunakan dengan sebuah kesadaran penuh bahwa itu semua hanyalah untuk kebaikan dan kesejahteraan kita semua, terutama anak-anak—generasi penerus kita di masa mendatang. Bila penggunaan kreasi teknologi mutakhir itu sudah mulai melenceng dari kesadaran diri itu, maka saatnya ada upaya tegas untuk menyetopnya. Sebab bila tidak kerusakan dan kehancuran saja yang akan menemani kita semua. Semoga anak-anak kita nantinya mau menengok, menggali, dan mempelajari kembali warisan seni budaya dan tradisi luhur nenek moyang kita, baik itu yang berupa seni Tari, seni pagelaran Wayang Kulit, maupun seni sastra. Sehingga nantinya gejolak sikap dan praktek brutal, tawuran, balang-balangan yang menggerogoti mental dan pola pikir anak-anak kita itu bisa terkikis bersih, digantikan oleh sebuah budaya seni edi peni yang halus dan luhur yang mampu mengasah budi pekerti dan mempertajam rasa kemanusiaan serta mengembalikan kemanusiaan anak-anak kita (juga kita) demi kebaikan dan kesejahteraan kita semua.

 ***

Terinspirasi ketika mengikuti perayaan Puncak Petrus Canisius yang mengambil sebuah tema yang cukup menarik : BERBAGI BUDAYA BERBAGI BAHAGIA


Cerpen - Tanda Tangan Pontius Pilatus


Tanda Tangan Pontius Pilatus
Oleh : Paulus Eko Harsanto

***
“Kau belum tidur, sayang?!” suara Claudia mengagetkan suaminya.
Sudah beberapa hari ini, Pilatus tidak bisa tidur. Pikirannya masih diselimuti kegelisahan dan kekecewaan yang tak tentu arah. Ia mulai sering merenung dan menyendiri semenjak menjatuhkan hukuman bagi Yesus, orang yang tak bersalah namun kematian-Nya begitu dinantikan para imam kepala.
“Aku… aku masih memikirkan hal itu!“ jawab Pilatus.
“Tentang Yesus?”
“Ya…… aku masih merasa begitu bersalah.” jawab Pilatus lirih.
“Aku tahu, aku berharap semoga dewa-dewa tetap menaungi kita.” Kata Claudia.
Sebenarnya Claudia sudah merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak baik pada keluarganya. Semalam sebelum Yesus dihadapkan pada Pilatus, Claudia mendapat pertanda lewat mimpinya tentang Yesus, karenanya ia berusaha membujuk suaminya untuk tidak menghukum mati Yesus.
“Sebenarnya yang menggelisahkanku, kenapa Yesus masih tersenyum dan berterima kasih setelah kuputuskan untuk menyalibkan-Nya?! “
Pilatus tak mampu lagi membendung air matanya yang kini mulai mengalir membanjiri wajahnya.
***
Pagi mulai merayap naik menuju tahtanya, tetapi sang malam masih menggandul, tak rela dikalahkan sang pagi. Perlahan mentari pun bersinar, berusaha menguak rahasia tabir malam. Hah…… sayang keanggunan sang pagi dirusak kerumunan masyarakat di depan rumah seorang imam agung yang sedang mengelilingi seseorang, yaitu Yesus.
“Cepat bawa orang ini!!! Para imam sudah menunggu Dia di dalam!” teriak salah seorang prajurit.
Maka Yesus pun digiring masuk ke dalam rumah, tempat berkumpulnya para imam kepala.
***
“Claudia...! Claudia…!”  Pilatus membangunkan istrinya.
Entah mengapa dari tadi malam Claudia merintih kesakitan. Pilatus mengkhawatirkan istrinya yang begitu ia cintai.
Claudia terbangun dari mimpinya kemudian memeluk suaminya. Ia baru saja tersiksa dalam mimpinya, untunglah Pilatus segera membangunkannya. Jika tidak, mungkin saja Claudia kelelahan sehingga mengganggu kesehatannya itu.
Claudia bermimpi dirinya disiksa berulang kali oleh seseorang. Bukan hanya itu saja, keluarganya pun dibuat berantakan sejadi-jadinya. Banyak negara di bawah Kekaisaran Roma memberontak, Pilatus dianggap tidak becus oleh Kaisar, sehingga ia dan keluarganya dibelenggu serta dijebloskan ke dalam penjara yang paling gelap dengan siksaan yang teramat sangat. Perlahan wajah seorang lelaki pun muncul dengan penuh luka disamping tahta Pilatus.
“A-aku……a-a-aku…… aku tersiksa dalam mimpiku sendiri!” Claudia masih ketakutan dalam pelukan suaminya.
Pilatus tidak menanggapi perkataan istrinya itu, ia tetap memeluk dan mengelus-elus rambut istrinya itu. Tak biasa istrinya begitu ketakutan. Ia yakin akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan sebentar lagi.
***
“Bawa orang ini ke hadapan Pilatus!!” Kayafas sudah muak berbicara dengan Yesus. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Yesus, selain pengakuan-Nya sebagai Mesias, Putra Allah yang Maha Tinggi.
***
Setelah membersihkan dirinya, Claudia berusaha mencari Pilatus, suaminya. Ada sesuatu yang perlu diutarakannya pada Pilatus. Setelah mencari di setiap sudut rumahnya, Claudia mendapatkan suaminya terduduk di atas tahtanya sambil meneliti data-data dari kepala pasukan.
“Suamiku, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.”
Katakan saja……” jawab Pilatus sambil menoleh pada istrinya.
“Sebentar lagi… sebentar lagi… sebentar lagi seseorang akan dibawa kepadamu dan dituduh sebagai penjahat. Aku mohon, jangan menjatuhkan hukuman mati pada-Nya!” kata Claudia.
“Memangnya ada apa?”
“Aku… aku begitu menderita tadi malam karena orang itu hadir dalam mimpiku.”
“Baiklah karena kau yang meminta, aku akan berusaha membebaskan Dia.” Pilatus tersenyum pada istrinya.
***
Akhirnya arak-arakan pengantar Yesus pun tiba di pelataran gedung sidang Wali Negri. Arak-arakan diawali rombongan para imam kepala, para pasukan yang mengawal Yesus dan akhirnya semua orang Yahudi, baik yang mendukung maupun yang membenci Yesus.
Melihat kedatangan arak-arakan tersebut, salah seorang hamba laki-laki Pilatus segera berlari mencari tuannya untuk melaporkan hal tersebut.
“Tuanku, hamba melihat sejumlah orang banyak bersama rombongan para imam kepala datang dan menunggu tuanku di pelataran gedung persidangan.”kata hamba itu.
“Baiklah, aku akan menuju kesana.” jawab Pilatus.
Mendengar hal itu, Claudia segera berlari menuju kamarnya karena salah satu jendelanya berseberangan langsung dengan pemandangan pelataran gedung persidangan. Hatinya mulai gelisah ketika melihat orang yang terbelenggu di antara para pasukan. Orang itu tak lain, tak bukan adalah Yesus sendiri.
 Pilatus bersama beberapa orang kepercayaannya memasuki pelataran gedung persidangan. Pilatus menatap sekilas pada Yesus. Ia begitu heran mengapa orang seperti Dia dibawa untuk menghadap padanya.
“Semuanya tenang…!” perintah kepala pasukan.
Apakah tuduhanmu terhadap orang ini…?!” Pilatus mulai membuka persidangan.
“Tuanku, orang ini telah menyesatkan bangsa kami. Ia melarang kami membayar pajak, selain itu Ia menyebut diri-Nya raja!” Salah seorang imam kepala mulai angkat bicara.
“Baiklah, bawa Dia masuk, aku ingin berbicara sebentar dengan-Nya!”
Pilatus mengajak Yesus masuk kedalam salah satu ruangan yang berada di samping tahta Pilatus.
Sementara itu, Para imam kepala berunding bagaimana caranya memenangkan persidangan ini. Setelah berunding, mereka memutuskan untuk menghasut rakyat agar memilih Barabas, seorang pemberontak dan pembunuh kelas kakap yang ditangkap oleh Pilatus karena telah banyak membunuh Tentara Roma, untuk dibebaskan dan meminta Yesus untuk disalibkan. Beberapa anak buah imam kepala pun langsung bertindak, mereka membisikan hasutan-hasutan mereka ke dalam telinga rakyat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai rencana para imam kepala. Di luar duagaan, ternyata dengan dijanjikan gandum 2 pikulan, mereka bersedia memilih Barabas untuk dibebaskan.
Pilatus bersama Yesus kembali memasuki ruang persidangan. Pilatus masih berdiskusi bersama orang-orang kepercayaannya. Di sela-sela diskusinya, Pilatus melirik kearah kamarnya. Terlihat Claudia berdiri dengan wajah yang gelisah kemudian mengangguk kepadanya. Pilatus mengerti, orang yang ada di dalam mimpi istrinya adalah Yesus. Maka, untuk mengulur-ulur waktu, ia mengirmkan Yesus pada Herodes dengan alasan Herodes adalah penguasa daerah tempat kediaman Yesus.
“Bawa orang ini pada Herodes, bukankah ia saat ini berada di Yerusalem?” kata Pilatus.
Akhirnya dengan wajah yang agak murung, para imam kepala mengantarkan Yesus ke hadapan Herodes. Setelah itu, Pilatus pun bergegas menuju kamarnya.
***
“Yah… Dialah orang yang berada dalam mimpiku!” Claudia takut dan gelisah.
“Baiklah… aku akan melakukan yang terbaik untukmu.” kata Pilatus.
Segala macam pikiran tercampur menjadi satu dalam kepala Pilatus. Antara bingung, heran, gelisah dan pusing hanya karena masalah ini. Ia merasa bingung dan heran kenapa orang seperti Yesus yang wajah-Nya teduh dan tatapan-Nya lembut dibawa kepadanya. Dengan janji pada istrinya, Pilatus memutuskan untuk berusaha melepaskan Yesus.
***
Sama seperti saat berbincang dengan Pilatus, dihadapan Herodes pun Yesus bungkam, tak berbicara sepatah kata pun. Yesus malahan dihina oleh Herodes dan beberapa orang lainnya. Setelah puas, Herodes mengembalikan Dia pada Pilatus karena ia tak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus.
“Kalian lihat! Aku tak menemukan kesalahan pada-Nya, begitu juga dengan Herodes. Sekarang aku akan menyesah-Nya kemudian melepaskan-Nya!” titah Pilatus.
Kepala pasukan yang berdiri di samping Pilatus membawa Yesus menuju tempat penyesahan. Sesampainya disana, ia tak kuat melihat penyiksaan terhadap Yesus karena ia masih berhutang budi kepada Yesus yang telah menyembuhkan salah seorang hambanya.
Setelah dinilai cukup menderita, para pasukan mengenakan mahkota duri pada Yesus, menyelubunginya dengan kain ungu dan membawa kembali Yesus pada Pilatus.
“Lihatlah rajamu! Aku sudah menyesah-Nya, sekarang aku akan melepaskan Dia!” kata Pilatus tegas.
“Dia bukan raja kami, raja kami hanyalah kaisar! Enyahkan Dia, Salibkan Dia.” kata-kata Pilatus disambut oleh teriakan seluruh rakyat yang hadir di pelataran gedung persidangan.
Pikiran Pilatus mulai kalut, ia tidak akan menyangka begini jadinya. Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara dengan Yesus kembali.
***
“Apa-apaan mereka !? Sudah jelas orang ini tak bersalah.” kata Pilatus.
Akhirnya tiba waktunya berbincang dengan Yesus kembali. Pilatus mengajak Yesus berunding, tetapi hasilnya nihil. Yesus tetap bungkam dan sekarang Ia terkesan membiarkan diri-Nya untuk dihukum mati. Hal ini tak bisa dibiarkan karena Pilatus sudah berjanji pada istrinya untuk melepaskan Yesus. Pilatus pun teringat beberapa hari lagi adalah perayaan Paskah. Pada perayaan itu, sesuai dengan tradisi, Pilatus wajib membebaskan salah seorang tahanan. Dalam hatinya ia berharap seluruh rakyat memilih Yesus untuk dibebaskan.
***
“Sebentar lagi perayaan Paskah! Sesuai dengan tradisi, aku akan membebaskan salah seorang tahanan. Sekarang aku memiliki 2 orang tahanan, yaitu Yesus dan Barabas. Siapa yang akan kalian pilih?” Pilatus mencoba jalan ini.
Pikiran Pilatus sudah dapat ditebak oleh anggota imam kepala. Mereka mulai meminta rakyat untuk berteriak agar Pilatus membebaskan Barabas.
“BARABAS…… BEBASKAN BARABAS…… SALIBKAN YESUS……!!!” suara teriakan rakyat menggema di dalam pelataran gedung persidangan.
Melihat hal itu, Pilatus duduk lemas pada tahtanya. Ia sungguh tak menyangka mereka lebih memilih penjahat kelas kakap untuk dibebaskan. Mau tidak mau Pilatus harus mengikuti permintaan rakyat. Tetapi bagaimana mungkin? Ia tidak mungkin melepaskan Barabas yang sudah banyak memberontak dan membunuh para prajuritnya. Ia juga tidak mungkin melawan kehendak rakyat karena jika tidak dilakukan, Pilatus akan dicap sebagai pemberontak terhadap kaisar. Selain itu ia masih terikat janji untuk membebaskan Yesus.
Pilatus menyuruh hambanya membawakan air. Ia membasuh mukanya dengan harapan pikirannya dapat lebih segar. Ini merupakan mimpi buruk bagi Pilatus, rasa-rasanya jika ini mimpi buruk, ia ingin cepat terbangun dan lepas dari semua ini. Dilihatnya wajah sang istri, ia takut mengecewakannya. Ia menatap Barabas, amarahnya mulai meninggi. Ketika menatap Yesus, ia sungguh tidak pernah berpikir untuk menyalibkan orang yang tidak bersalah. Sejurus kemudian ia melihat rakyat dan imam-imam kepala yang masih berteriak meminta Barabas dibebaskan.
Perlahan keringat dingin mulai membanjiri tubuh Pilatus. Ia belum pernah mendapat persoalan seperti ini. Ia sungguh-sungguh ingin menyelesaikan ini tanpa beban, tetapi kenyataan berbicara lain. Akhirnya Pilatus lebih memilih untuk mencuci tangan dari segala macam persoalan hari ini. Ia membasuh tangannya dihadapan rakyatnya.
Salah seorang hamba Pilatus membawa salah satu gulungan surat. Pilatus menerima gulungan itu dan membukanya. Dengan tangan gemetar, keringat dingin yang membasahinya serta pikiran yang kalut dan tak tentu arah, Pilatus menandatangani gulungan surat tersebut.
“Hakimilah Dia sendiri, aku tak ingin ikut campur dalam masalah ini!” kata Pilatus seraya melemparkan gulungan surat itu ke arah imam kepala.
Senyum kemenangan menghiasai wajah para imam kepala. Sejurus kemudian mereka memerintahkan para prajurit untuk menyalibkan Yesus di bukit Golgota.
Sebelum kepala pasukan membawa Yesus, Pilatus mendekat ke arah Yesus dan terus-menerus menatap-Nya sampai Yesus dibawa oleh kepala pasukan.
“Terima kasih……” kata Yesus lirih yang hanya bisa di dengar oleh Pilatus. Setelah berucap demikian, Yesus memberikan senyum hangat-Nya pada Pilatus. Pilatus tertegun. Sesaat kemudian ia merasa tak berdaya, kakinya lemas dan ia merasa bersalah telah “menyetujui” penyaliban itu.
 ***
Beberapa minggu setelah peristiwa itu…………
“Kau belum tidur, sayang?!” suara Claudia mengagetkan suaminya.
Sudah beberapa hari ini, Pilatus tidak bisa tidur. Pikirannya masih diselimuti kegelisahan dan kekecewaan yang tak tentu arah. Ia mulai sering merenung dan menyendiri semenjak menjatuhkan hukuman bagi Yesus, orang yang tak bersalah namun kematian-Nya begitu dinantikan para imam kepala.
“Aku… aku masih memikirkan hal itu!“ jawab Pilatus.
“Tentang Yesus?”
“Ya…… aku masih merasa begitu bersalah.” jawab Pilatus lirih.
“Sebenarnya yang menggelisahkanku, kenapa Yesus masih tersenyum dan berterima kasih setelah kuputuskan untuk menyalibkan-Nya?! “
Pilatus tak mampu lagi membendung air matanya yang kini mulai mengalir membanjiri wajahnya.
“Aku tahu, kau mencoba memberikan yang terbaik. Tetapi kau juga tidak boleh tenggelam dalam masalah ini. Sekarang beristirahatlah.” Kata Claudia seraya melepaskan pelukannya.
Aku menyesal tidak mau melawan rakyat. Selain itu aku menyesal tak mendengarkan suara-Nya. Padahal saat kuajak berunding, Ia berkata padaku, “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Aku sungguh menyesal tak mendengarkan-Nya” Kata Pilatus sambil menghapus air matanya.

“Tuhan Yesus Memberkati Hidupmu”



Cerpen - Cermin


Cermin
Ditulis oleh : Paulus Eko Harsanto

Mentari mulai lelah bersinar. Ia rela mengalah dan tunduk pada keanggunan lembayung senja. Sudah sehari penuh Sang Mentari berjalan dan memancarkan sinarnya, kini sudah tiba saatnya ia beristirahat, naik ke peraduannya. Keanggunan lembayung senja pun segera mengambil alih kekuasaan yang sudah ditinggalkan sang mentari. Kelembutan dan kedamaian disinarkan dengan manis oleh sang lembayung. Tak heran banyak burung-burung yang keluar untuk menikmati sinarnya.
Kenikmatan ini ditambah dengan kemesraan sepasang suami istri yang sedang berdiri di pinggir pantai.
”Mas, sudah pulang?” tanya Tini pada suaminya.
”Sudah. Sebenernya ada apa?”
Panji tidak menjawab pertanyaan istrinya. Ia merasa ada yang janggal dengan istrinya. Tak biasanya istrinya menunggu kepulangannya di tepi pantai.
”Lho... ditanya kok malah balik nanya?” balas Tini.
”Ya nggak biasanya kamu ada di sini...”
O, ya ampun... iya aku hanya pengen ketemu Mas di sini.” jawab Tini.
”Bener, nggak ada maksud lain?”.
”Hehehe.... ada sih, aku hanya pengen ngobrol aja, boleh kan?” kata Tini manja.
”Boleh, memang kamu mau ngomong apa?” tanya Panji.
Sambil menunggu jawaban, otak Panji mulai meraba-raba sebenarnya pembicaraan ini mengarah kemana. Sempat terbersit oleh Panji tujuan pembicaraan ini mungkin mengenai gambar wajah ayahnya yang ia temukan kemarin di pantai.
Mas, kalau boleh tahu, Mas punya simpanan ya?” suara Tini menjadi serius.
”Maksudmu? Kalau duit simpanan ada, tapi ada di rumah.”
Bukan itu, Mas punya istri simpanan?”
Lho, apa maksudmu? Aku kan hanya punya kamu seorang”, jawab Panji.
Tini hanya diam. Pikiran dan hatinya tidak sejalan. Pikirannya berkata bahwa suaminya berbohong. Lagi pula kan sudah terbukti dengan gambar wajah wanita lain di bawah bantalnya. Tetapi hatinya berkata lain. Hatinya merasakan suaminya tidak berbohong. Tini bingung harus mengikuti yang mana. Suaminya juga tak menunjukan gelagat kebohongan. Sudah 8 tahun Tini menikah dengan Panji dan Tini tahu seluk beluk sikap Panji, bahkan sikap Panji ketika berbohong pun diketahui oleh Tini.
Lho... malah ngelamun?” tanya Panji.
Aku bingung Mas, tadi pagi saat aku beres-beres, aku menemukan gambar wajah perempuan lain di bawah bantalmu. Sudah Mas sekarang jujur sama aku”, jawab Tini.
Otak Panji mulai tercerahkan. Ternyata benar, pembicaraan ini mengenai gambar wajah ayahnya yang ia temukan kemarin di pantai. Tetapi otaknya berpikir kembali, ia menemukan gambar wajah ayahnya, bukan gambar wajah perempuan. Ada yang tidak beres di sini.
”Ooo.... yang ada di bawah bantalku itu gambar wajah ayahku, bukan wajah    perempuan lain!”
Mas, aku lihat dengan mataku sendiri itu adalah wajah seorang perempuan!” Air mata Tini pun tidak dapat dibendung lagi.
Kamu percaya sama aku?” tanya Panji.
Aku sangat percaya sama Mas, tapi sejak kutemukan wajah perempuan itu, aku agak ragu dengan perkataanmu Mas”, jawab Tini.
Baik, sekarang mana gambar wajah itu?” Panji mengendalikan emosinya.
Tini segera mengeluarkan sebuah bungkusan yang dibungkus oleh kain dari belakang tubuhnya. Ya, itu adalah bungkusan kain yang disimpan oleh Panji di bawah bantalnya.
Coba buka bungkusan itu dan lihat gambarnya!” perintah Panji.
Tini menurut pada perintah suaminya. Setelah bungkusan itu terbuka, terkejutlah Panji dan Tini saat melihat foto yang muncul. Panji melihat gambar wajah ayahnya berdua dengan istrinya. Berbeda dengan yang dilihat Tini. Ia melihat gambar wajah suaminya bersama perempuan lain.
”Mas, nih buktinya, kamu sama perempuan lain kan?”
Eh...eh...coba kamu lihat lagi, itu kan ayahku sama kamu sendiri.” jawab Panji.
”Pasti ada yang salah di sini. Aku dan kamu melihat gambar yang berbeda.”            lanjut Panji.
”Hah.. jujur sajalah, Mas! Aku nggak marah kok, aku hanya pingin kamu jujur”
Tini, ini ada yang salah. Kamu percaya sama aku kan?”
Salah bagaimana?” tanya Tini.
Iya, masak kita melihat gambar yang sama, tapi yang kita lihat kok berbeda?”
Sebenarnya Tini juga merasakan hal yang sama. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi perasaan hatinya sudah mengendalikan seluruh tubuhnya. Tini mulai bimbang dan bertanya dalam hatinya jangan-jangan benda ini adalah benda yang sakti.
Mas, aku percaya sama kamu, tapi kamu jujur kan?”
Iya, aku jujur. Aku hanya mencintaimu”, kata Panji.
Keanehan yang Mas maksud bukan cara kamu menghindar kan?” Tini masih      meragukan jawaban suaminya.
Pak Parto yang sedari tadi mengamat-amati Panji dan Tini akhirnya memberanikan diri mendekati mereka. Ia merasa heran karena Panji dan Tini adalah pasangan yang terkenal dengan kemesraan mereka di desa ini, tetapi mengapa mereka sore ini bertengkar. Sebagai kepala desa, ia merasa ini bagian dari tanggung jawabnya untuk membantu mereka.
Ada apa ini?” sapa Pak Parto.
Ini Pak, saya menemukan benda ini di bawah bantal suami saya.” jawab Tini.
Oooo.... benda ini penyebab kalian ribut dari tadi.”
Maksud Bapak?” Panji heran.
Iya, tadi saya berjalan menuju rumah Pak Tito, saudagar desa kita yang baru             pulang, lalu melihat kalian bertengkar, saya heran saja, pasangan serasi kalian     bisa bertengkar juga ya.... hehehe....” jelas Pak Parto.
Iya, di dalamnya ada gambar perempuan lain”, emosi Tini melonjak.
Boleh saya lihat?”
Silahkan Pak”, jawab Panji.
Parto mulai membuka bungkusan yang diserahkan Tini padanya. Setelah melihat gambar yang ada, ia merasa heran. Tini berkata bahwa ada wajah perempuan lain. Ia rasa Tini salah melihat. Pak Parto hanya melihat wajahnya sendiri tergambar pada benda itu.
Loh... ini kan wajah saya. Mana perempuannya?” kata Pak Parto.
Tini dan Panji heran. Tini jelas-jelas melihat wajah perempuan lain. Begitu juga dengan suaminya. Panji jelas-jelas melihat gambar wajah ayahnya. Panji merasa ada yang benar-benar salah di sini. Emosi Tini menurun. Sebenarnya tadi ia hendak memarahi suaminya karena berusaha mengelak dari kesalahannya, tetap tertahan karena jawaban dari Pak Parto.
Ya sudah, sekarang kita bertiga menemui Pak Tito, benda apa sebenarnya ini”
Baik Pak!” jawab Panji dan Tini serempak.
Mereka bertiga pergi menuju rumah Pak Tito. Pak Tito adalah saudagar yang sukses dan paling kaya. Setiap ada warga yang membutuhkan bantuan, Pak Tito bersedia membantu sejauh yang dapat ia bantu. Semua warga desa amat menghormati Pak Tito.
Wah, Pak Parto, Panji, Tini, tumben kemari, ada yang bisa saya bantu?” sambut Pak Tito saat melihat tamunya.
Begini Pak, Panji dan Tini menemukan benda ini. Tini melihat wajah seorang            perempuan, tetapi saat saya melihatnya, saya melihat wajah saya. Ini benda apa          ya Pak?” Pak Parto langsung menjelaskan permasalahan mereka.
Saya malah melihat wajah ayah saya”, sambung Panji.
Pak Tito menerima bungkusan dari Pak Parto, ia membukanya kemudian mengamat-amati sebentar. Ya, ini adalah pecahan cerminnya yang pecah 2 hari yang lalu.
Benda ini pasti di temukan di pantai, di dekat perahu-perahu”
Bagaimana Pak Tito bisa tahu?” tanya Panji.
Iya, waktu itu saya baru pulang, saat berjalan menuju rumah, saya tersandung,         kemudian cermin saya pecah. Saat mencari pecahannya, saya kesulitan. Ya          sudah, saya hanya merelakan pecahan itu hilang”, jawab Pak Tito.
Setelah menjawab demikian, Pak Tito masuk ke kamarnya mencari cermin kesayangannya yang ia beli di kota beberapa hari yang lalu. Setelah menemukannya, Pak Tito kembali menemui tamu-tamunya kemudian mencocokan pecahan cermin itu pada cerminnya. Terbukti, pecahan itu pas dengan bagian cermin miliknya yang hilang.
Ooo... barang ini milik Pak Tito, lalu Pak, cermin itu apa?” tanya Tini.
Ooo, cermin itu adalah benda yang dapat merefleksikan wajah kita saat kita    melihatnya. Nih buktinya, coba kamu pegang dan lihat. Nah yang kamu lihat itu        adalah bayangan wajahmu sendiri.” kata Pak Tito seraya menyerahkan cermin pada Tini.
Tini melihat perempuan yang sama saat melihat gambar itu pertama kali. Sekarang ia tahu bahwa itu adalah dirinya sendiri. Ia melihat dirinya begitu cantik. Tini pun tersipu malu. Ia menatap suaminya.
Panji hanya tersenyum melihat istrinya tersipu malu. Ia juga sadar bahwa yang dilihatnya bukan wajah ayahnya yang telah meninggal, tetapi wajahnya sendiri.
Mas, maafkan aku ya....” kata Tini.
Iya, istriku sayang”, jawab Panji sambil memeluk istri tercintanya.
Pak Tito dan Pak Parto hanya tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri yang ada di depan mereka.


Ketika melamun di depan cermin

Cerpen - Curhat


Curhat
Oleh : Paulus Eko Harsanto

Banyak orang bilang, liburan itu momen yang ngangeni, Wisky di tengah rutinitas hidup yang memegalkan daging dan batin. Tapi bagiku, semua itu omong kosong. Liburan tak ada bedanya dengan arena penjagalan hati, tempat di mana intuisiku dikoyak dan dibacok habis, bengis.

Semuanya gara-gara kamu. Kamu, Hellena Sofrania Dinar, yang tiba-tiba nongol di tengah jalan hidup yang sedang mantap-mantapnya kupijaki. Kamu, yang membuat tanganku alergi untuk tidak menggenggam dan memijati tombol-tombol batangan seluler yang bahkan membuatku heran sendiri. Kamu, yang mengenakan sweater tipis berwarna krem, berpotongan rambut sebahu dengan jeans biru, duduk bersama lelaki yang tak kutahu di gereja pagi itu.
Kau agaknya kaget dengan kehadiranku. Senyum segera membingkai wajahmu, sementara aku hanya bisa menatap lekat punggungmu dari belakang bangku.
“Hai.”
“Hai.”
Kau sapa aku seusai misa di parkiran, sementara aku hanya bisa membalasnya dengan seulas senyum kaku. Kau pulang bersama dia yang tak kutahu, meninggalkan seulas senyum simpul yang lengket di benakku. Aku termenung dalam lamunan, sampai Romo menggandengku dengan penuh semangat untuk sekedar mengisi perut dan basa-basi di pastoran. Maklum, jarang-jarang seminaris berkunjung ke pastoran, kecuali saat libur.
“Penjagalan” serupa kualami kemudian di hari-hari liburanku; saat misa harian, misa malam natal, pun saat misa natal anak. Aku dan kamu, bercakap-cakap hanya dengan mata kita yang terkadang saling terpaut di gereja. Malam natal itu aku hanya bisa duduk menatapmu yang duduk di bangku koor, dengan harapan yang menggantung akan sapaan dan ucapan selamat natal darimu di penghujung misa malam itu. Semua itu sayangnya hanya menjadi sebongkah harapan kosong. Kau berkumpul bersama kawan-kawanmu, tenggelam dalam kehangatan natal yang membuatku iri dan cemburu. Akhirnya kulekatkan pantatku di pastoran, duduk bersama romo-romo maupun frater sembari berbasa-basi saja, menghabiskan malam natal yang sepi akan harapan akan dirimu yang sempat hijrah di benakku.
Esoknya pun begitu. Kujumpai lagi dirimu di misa natal anak bersama lelaki itu, mendampingi bocah-bocah PIA di Gereja. Akhirnya aku dapat menemuimu di penghujung misa,
bersama lelaki itu.
Kulontarkan seulas senyum dan ucapan selamat natal padamu, dan aku pun pulang dengan rasa cemburu yang merangkul.
Kenapa harus ada hari libur? Kenapa aku harus kembali ke Jogja, menghabiskan waktu dalam kekalutanku akan dirimu dan juga jalan hidupku? Sungguh, selibat yang kucoba gandeng saat ini benar-benar tidak menaruh kompromi akan kehadiranmu. Aku jadi limbung; kumohon pada-Nya sebuah peneguhan, namun Dia justru menghadapkanku padamu. “Apa-apaan ini,” pikirku. Aku pun seolah kembali dihadapkan pada pilihan itu: awam, atau imam?
Aku merasa seolah telah berselingkuh dari panggilanku, denganmu.
***
Tahukah kamu?
Di sini, aku masih menaruh rasa padamu yang jauh di Seminari. Maka dari itu kehadiranmu saat liburan sungguh menghiburku, meski sesungguhnya aku telah berusaha untuk mengikhlaskanmu dengan pilihan dan jalan hidupmu itu.
Pertemuan kita di setiap ekaristi selalu menggugah semangatku. Pagi itu aku ingin ngobrol dan sekedar berbasa-basi denganmu, namun kamu sedang berbincang-bincang dengan romo di pastoran. Malam itu, seusai misa natal, aku ingin menemuimu untuk sekedar menyapa dan menyampaikan ucapan selamat natal padamu tepat sesudah aku berbincang bersama teman-temanku, namun lagi-lagi kamu berkumpul dengan romo-romo dan juga frater di pastoran.
Akhirnya aku menjumpaimu pagi itu seusai misa natal anak. Kau sapa aku, kau ucapkan selamat natal padaku dan kau pun segera pergi dari hadapanku dan Joko, dengan semburat rasa cemburu yang terbingkai di wajahmu.
I wish you’re not jealous to me. Bukankah dulu kamu sendiri yang berkata, ”Aku sudah bisa mengatasi perasaanku padamu”? Bahwa semua itu memanglah pil pahit yang harus kau telan, sebagai konsekuensi dari jalan hidupmu itu? Lantas mengapa masih kau tunjukkan padaku kebiruanmu itu, ke’jealous’anmu, padaku?
Luka itu menganga kembali apabila aku mengenangmu dalam lamunanku, namun aku selalu berusaha untuk menutupnya dengan keikhlasanku atas pilihan hidupmu. Aku tidak mau, kamu melihat luka itu menganga dari wajah dan sikapku padamu. Aku tidak mau kamu tahu, aku sakit.
Oleh karena itulah aku selalu tersenyum padamu. Kucari orang lain yang “sepadan” denganmu, meski kutahu, tak ada orang lain yang sanggup memadani seorang Andreas Rahardjo. Kubendung perasaanku yang selalu menggebu-gebu untuk menghubungimu, agar aku tidak melulu mengaduk-aduk perasaanmu dengan sikapku. Semua itu demi dirimu dan “mempelai”mu itu.
Namun tampaknya kamu belum bisa melepasku. Kau serbu malamku dengan sms’mu, kau ungkapkan semua perasaan dan juga kecemburuanmu padaku, sampai akhirnya aku ajak aku untuk mengawali warsa tahun 2010 ini dengan mentraktirku di Pizza Hut sore itu. Kau bahkan memberiku kado ulang tahun yang terburu-buru, mengingat ulang tahunku yang masihlah terlampau jauh, sebelas Maret.
“Aku tahu ini konyol. Tapi aku khawatir, kalau aku tidak bisa mengirimimu kado ini dari Seminari sewaktu kamu ulang tahun. Takut kirimannya nyasar’lah, gak nyampe’lah. Yah, anggap saja ini kado ultah kesusu, kado natal, atau bahkan hadiah tahun baru.”
“Andre…”
“Yah, aku memang sakit. Tapi mau bagaimana lagi, toh aku sudah terlanjur sayang. Kadung tresna. Ya memang sakit, namanya juga jalan hidup.”
Kau aduk perasaanku hingga sejauh itu. Aku hanya bisa diam, menatapmu melahap pizza tuna dengan tatapan kosongmu yang mengudara entah ke mana. Kau tumpahkan semua perasaanmu padaku sore itu, membuatku semakin tersiksa dengan, yah, apalah itu. Wanita mana yang tidak merasa tesiksa, mengetahui bahwa dirinya disayangi oleh orang yang disayanginya, namun juga tak bisa dirangkulnya?
“Biar saja aku sakit. Yang penting kamu tidak sakit seperti aku, toh sudah ada Joko yang menemanimu. Kamu tidak sakit’kan, Din?”
“Tidak. Aku tidak apa-apa.”
Kulontarkan kata-kata itu dalam topeng senyumku padamu. Aku tidak mau, kamu melihat luka itu menganga dari wajah dan sikapku padamu. Aku tidak mau kamu tahu, aku sakit.
“Yah, syukurlah kalau begitu…”
Sore itu kita tertawa bersama, menghabiskan waktu sembari menertawakan lakon sakit hati yang tengah kita hayati selama ini.
Andre, aku selalu mendoakanmu, mendukung pilihan dan jalan hidupmu, apapun itu. Hanya saja tolong, jangan tinggalkan panggilanmu hanya karena diriku. Jangan.
Aku hanya tidak mau kamu tahu, aku sakit.
***
Kamu bohong.
Sore itu, dari matamu kulihat perih yang berlawanan jauh dari buah bibirmu yang berujar,
“Tidak. Aku tidak apa-apa.”
Maaf, maafkan aku. Kamu pasti merasa sakit dengan semua sikapku selama ini. Yah, begitulah aku, Andre yang dengan mudahnya buta akan perasaan dan intuisi. Maafkan aku, yang telah menjadikanmu tumbal kebutaanku.
Aku pun kembali dibayang-bayangi oleh pertanyaan itu: awam, atau imam? Ah, limbung rasanya. Bisakah aku menjadi seorang imam, apalagi berselibat, dengan intuisi sesensitif ini? Bisakah aku melakoni hidup awam, apalagi dengan keutuhan keluargaku yang sedemikian rupa, mengingat keberadaan Mas Awan yang adalah kakakku secara lahiriah namun juga adik secara batiniah dan kedewasaan diri, dalam hidupku? Antonius Rahardjo Irawan Adi Suryo, seorang bocah bermental sepuluh tahun yang terperangkap dalam tubuh seorang lelaki berusia kepala tiga, yang hidupnya selalu diwarnai dengan judi, lonthe, sekularisme dan hedonisme? Sungguh, kau akan tertipu dari perawakannya yang besar dan preman dari luarnya, karena sebenarnya dia hanyalah seorang pengecut yang akan lari dengan mudahnya dari setiap tanggung jawab yang ada padanya, pembual ulung sekaligus pemboros arta yang profesional. Mungkin aku masih bisa menerimanya meskipun dengan keluhan yang sudah sewajarnya kulontarkan secara manusiawi, namun sanggupkah istriku menerima dirinya nantinya, apalagi kamu, Dinar? Tak terbayang olehku, hidup dalam bayang-bayang kakakku itu bersama keluargaku sebagai seorang awam. Membayangkannya mampir ke rumah saja sudah membuatku mual, meski sesungguhnya aku menyayanginya.
Namun aku lagi-lagi dihadapkan pada perasaanku padamu. Di sinilah aku memutuskan untuk tidak mengambil keputusan apapun. Aku rindu saat-saat itu, saat di mana aku terjun dalam keheningan diri yang menenangkanku. Maka pergilah aku siang itu, ke tempat di mana aku dapat memperoleh apa yang kuinginkan.
***
Mendung tipis menggantung di langit siang itu. Andreas Rahardjo pergi, memboyong shogun 125 cc’nya ke sebuah rumah singgah MSC di dekat rumahnya, tempat yang dulunya milik keluarganya dan dijual oleh ayahnya pada para misionaris MSC demi melunasi hutang-hutang yang membumbung.
Dia ingat, dulu dia pernah mampir ke rumah itu untuk sekedar bernostalgia. Rumah itu sudah memiliki sebuah kapel di ruang depannya, sebuah tempat yang kemudian menjadi tempat favorit Andre untuk sekedar menyelami keheningan dan menyapa sang Ilahi. Di sana dia menemukan kebeningan yang blaka dalam dirinya sendiri, dan dia pun ketagihan menenggak kebeningan itu. Dia ingat, untuk pertama kalinya dia menenggak kebeningan itu satu tahun yang lalu, di kala dia dirundung kepenatan di sela liburannya. Di senang akan sensasi tenggakannya, dan kini, dia kecanduan.
“Selamat siang, Bruder.”
“Eh, Andre! Selamat natal dan tahun baru, ya! Ayo, masuk.”
Bruder paruh baya itu memboyong Andre ke ruang makan. Namanya Bruder Cahyo, kenalan lama keluarga Basoeki sejak terjualnya rumah besar itu pada para misionaris MSC. Di sana Andre makan bersama para penghuni rumah itu, dengan pastor, frater dan bruder. Makanan manado menyapanya, khas MSC.
Tak banyak dia santap makanan-makanan itu. Mengisi perut bukanlah tujuannya datang ke rumah itu. Dia ingin mengenyangkan batinnya.
“Der, nanti bisa ngomong sebentar?”
“He? Bisa, bisa. Di ruang depan, ya.”
“Aku ke kapel dulu ya, Der. Ngademake ati.
Penantiannya terpenuhi. Andre melangkahkan kakinya ke kapel berukuran enam kali  tujuh meter, sebuah ruang teduh berkarpet biru yang menenangkan. Sensasi itu menggelenyar dalam dirinya; rasa rindu, damai dan keteduhan yang membuat batinnya sakau akan keheningan. Siang itu, Andre merasa damai.
Bersilalah dia di hadapan altar. Dengan tenang dia memejamkan mata, tenggelam dalam keheningan, menemui-Nya.
***
Jalan setapak itu sepi. Angin mengalun santai, menyapa rerumputan yang menjawab sapaannya dengan lambaiannya yang mengalun lembut mengikuti alunan si Angin.
Andreas Rahardjo duduk di bawah sebatang pohon di tepi jalan itu. Di hadapannya terhampar luas rerumputan yang masih asyik mengalun bersama si Angin. Celana jeans membalut kakinya, berpasangan dengan kaos oblong hitam yang melekat di tubuhnya. Sementara itu seorang pria duduk di sampingnya, seorang pria dengan setelan kuno seorang gembala yang sangat ketinggalan zaman.
Tapi Andre merasa tenang berada di samping pria itu, sekuno apapun dia. Baginya, eksistensi pria itu jauh lebih penting daripada sekedar sebuah penampilan yang nonsense di matanya. Dia rindu akan pria itu, namun kerinduannya dinodai oleh segumpal uneg-uneg yang mengganjal di benaknya. Ada yang harus dia tanyakan, pada-Nya.
“Apa maksud-Mu?”
“He?”
“Kumohon peneguhan, tapi Dinar’lah yang kau hadapkan padaku. Apa maksud-Mu? Sakit, tahu.”
Pria itu diam. Sejenak mereka saling memandang, lalu tertunduk dalam benaknya masing-masing. Angin masih mengalun, sepi.
“Itu belum seberapa.”
“He?”
“Daripada sakitku, itu hanya secuil.”
Pria itu menunjukkan luka di kedua telapak tangan dan kaki-Nya. Andre mengernyit.
“Iya, aku tahu. Tapi apa mau-Mu?”
“Jalani saja dulu. Aku dulu juga begitu. Manusiawi.”
Andre merasa pertanyaannya belum dijawab. Dipandangnya jalan setapak yang sebelumnya dia tapaki. Dia ingat, dulu dia pernah menghadapi sebuah persimpangan sebelum menapaki jalan itu bersama pria itu. Pria itu selalu menemaninya, menjadi guide dalam perjalanannya. Dia pun memilih jalan yang kini dia tapaki, sesuai dengan arahan guide’nya  itu.
Setelah itu, rasa sakit pun menjadi kawan baru dalam perjalanannya. Jalanan itu berlimpah akan batu dan kerikil yang tidak pernah absen memijiti kedua telapak kakinya. Dia bahkan pernah menginjak sebatang paku yang dengan penuh nafsu menyodomi telapak kakinya yang tak beralas. Dia kesakitan, dan pria itu pun menolongnya.
Setiap kali dia merasa lelah dan kesakitan, dia beristirahat bersama pria itu di bawah pohon itu, selalu. Tidak di pohon lain, hanya di bawah pohon itu. Seolah pohon itu ikut berjalan bersama mereka ke mana pun mereka pergi. Seolah pohon itu tahu, mereka membutuhkan keteduhannya.
Andre masih menunggu.
“Aku sengaja melakukannya. Sengaja, supaya kamu merasakan rasa sakit itu menyesah batinmu.”
“Kenapa?”
“Aku mau, kamu memilih sendiri jalanmu. Aku memang mengarahkanmu di jalan itu, tapi Aku tidak suka dengan sikapmu yang hanya menurut saja seperti babu. Inggih, nanging ora kepanggih. Aku mau kamu benar-benar memilih sendiri jalanmu, dan tidak inggih-inggih’an saja seperti itu.”
Andre terhenyak. Keblaka’an pria itu membongkar semua tanda tanya dalam benaknya. Dia pun merasa lepas dan bebas dari rasa sakit yang merangkulnya. Semuanya mengalir begitu saja, menggelegak dalam dirinya. Kegundahannya sirna.
“Berat, ya.”
“Memang.”
Andre masih duduk bersama pria itu di bawah guyuran sinar mentari sembari dipayungi sang Pohon yang dengan setia meneduhi mereka, di manapun mereka berada.
Andre merasa bebas, merdeka.
***
Andre membuka matanya.
Sinar matanya menyorotkan sosok yang jauh berbeda daripada sebelumnya, sorot mata orang yang bebas dan merdeka.
Tuhan mendengarkan doa orang yang ingin lari dari kebencian, tapi Dia menulikan diri dari orang yang hendak lari dari cinta. “Benar juga,” pikirnya. Andre pun melangkah ke ruang depan, di sana Bruder Cahyo sudah menunggunya.
“Ada yang harus kucurhatkan,” batinnya dalam hati.

Dalam pergulatan keselibatanku

Cerpen - Caraka

  CARAKA Oleh : Paulus Eko Harsanto   Hana caraka, data sawala Padha jayanya, maga bathanga *** Engkau percaya dengan berbagai b...